DK-Jenewa — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah berupaya membuka akses menuju Al-Fasher, kota di wilayah konflik Darfur, Sudan, menyusul laporan terjadinya pembantaian massal sejak kota tersebut dikuasai pasukan Rapid Support Force (RSF) bulan lalu.
RSF merupakan kelompok paramiliter yang kini bertikai dengan Pemerintah Sudan. Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, menegaskan bahwa masuknya tim kemanusiaan ke Al-Fasher menjadi prioritas mendesak.
“Di sana akan berlangsung investigasi menyusul laporan eksekusi sistematis, penahanan, dan rudapaksa,” ujarnya, dikutip dari The Straits Times, Kamis (20/11/2025).
Banyak warga memilih tetap tinggal ketika RSF merebut kota tersebut. Namun hingga kini, kondisi mereka tidak jelas. Fletcher menilai diperlukan jalur aman agar pekerja kemanusiaan bisa masuk dan para penyintas dapat dievakuasi.
Ia mengaku pembicaraannya dengan RSF berlangsung sangat rumit, namun tetap optimistis PBB dapat memasuki Al-Fasher dalam beberapa hari atau pekan mendatang.
“Kami siap bekerja keras agar bisa masuk ke kota tersebut,” jelasnya.
Fletcher menegaskan bahwa warga Al-Fasher sangat membutuhkan makanan, air, dan obat-obatan, terutama setelah munculnya laporan tindakan represif oleh RSF.
Sebelumnya, Fletcher telah meminta Panglima Militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, membuka akses penuh bagi operasi kemanusiaan PBB. Selama ini militer Sudan dianggap membatasi ruang gerak bantuan internasional.
Sementara itu, RSF membantah tuduhan kejahatan perang dan menyebutnya sebagai berlebihan. Meski begitu, kelompok tersebut mengaku bersedia menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan anggotanya.














