DK-Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, “berulah” di tengah gencatan senjata yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Peringatan tersebut disampaikan menyusul serangan Israel ke Lebanon di tengah gencatan senjata yang mulai berlaku setelah sekitar 40 hari pertempuran.
Araghchi menegaskan bahwa jika Washington membiarkan diplomasi runtuh, maka hal itu merupakan pilihan Amerika Serikat sendiri.
“Kami merasa pilihan tersebut bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” ujar Araghchi dalam unggahan media sosial, dikutip Jumat (10/4/2026).
Ia juga menyinggung kelanjutan proses hukum terhadap Netanyahu yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (12/4). Menurutnya, gencatan senjata regional, termasuk di Lebanon, dapat mempercepat proses hukum terhadap pemimpin Israel tersebut.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa “waktu hampir habis”. Ia menyebut Lebanon dan kelompok “poros perlawanan” sebagai bagian tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata.
Dalam upaya diplomasi, Araghchi juga melakukan pembicaraan telepon dengan sejumlah menteri luar negeri negara Eropa dan Rusia. Dalam percakapannya dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, ia menegaskan Iran mengambil pendekatan yang bertanggung jawab.
Ia menyatakan jalur aman melalui Selat Hormuz akan dibuka selama dua pekan masa gencatan senjata, dengan syarat Amerika Serikat memenuhi komitmennya.
Sementara itu, kepada Menlu Prancis, Jean-Noel Barrot, Araghchi menyampaikan penyesalan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel serta mendesak adanya respons internasional.
Menlu Spanyol, Jose Manuel Albares, juga menilai serangan terhadap Iran sebagai tindakan ilegal dan meminta semua pihak tetap berada di jalur diplomasi.
Gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat mulai berlaku pada Rabu (8/4). Pembicaraan damai dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Islamabad, Pakistan, dengan delegasi Iran dilaporkan dipimpin Qalibaf.
Namun, Israel menyatakan gencatan senjata tersebut tidak mencakup konflik di Lebanon—posisi yang dibantah Iran dan mediator Pakistan. Di sisi lain, serangan Israel ke Lebanon dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.


https://dpk.kepriprov.go.id/











