DK-New York – Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, memperingatkan bahwa meningkatnya ancaman di Timur Tengah berisiko mengganggu perdamaian internasional, keamanan energi, dan perdagangan global.
Peringatan tersebut disampaikan Faisal dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Sabtu (26/9/2026). Dalam pidatonya, ia menyerukan penguatan kerja sama internasional untuk melindungi negara-negara Teluk serta jalur pelayaran strategis.
Faisal mengatakan Arab Saudi dan sejumlah negara di kawasan telah menjadi sasaran serangan yang menurut Riyadh berasal dari Iran, termasuk terhadap fasilitas keamanan, sipil, dan ekonomi. Pernyataan tersebut merupakan posisi pemerintah Arab Saudi dalam menanggapi perkembangan konflik di kawasan.
Ia menegaskan kembali hak Arab Saudi untuk melindungi keamanan, kedaulatan, warga negara, penduduk, serta sumber daya nasionalnya. Pada saat yang sama, Faisal meminta komunitas internasional mengambil langkah untuk menghadapi berbagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
“Keamanan kawasan Teluk adalah bagian tak terpisahkan dari keamanan kawasan dan dunia secara luas. Stabilitas di Teluk terhubung langsung dengan keamanan energi global, perdagangan internasional, dan rantai pasokan,” kata Faisal seperti dilansir UN News.
Faisal juga menyerukan perlindungan terhadap kebebasan navigasi di jalur perairan internasional. Ia secara khusus menyoroti Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden yang memiliki peran penting bagi aktivitas pelayaran dan perdagangan internasional.
Menurut Faisal, jalur-jalur tersebut tidak seharusnya digunakan oleh pihak mana pun sebagai instrumen tekanan atau ancaman. Ia meminta kondisi di Selat Hormuz dikembalikan ke keadaan sebelum 28 Februari, tanpa pengenaan biaya maupun pembatasan terhadap pelayaran.
Di tengah ketegangan kawasan, Faisal juga menyatakan dukungan terhadap berbagai upaya de-eskalasi. Ia menyebut inisiatif yang dilakukan Qatar, Pakistan, dan sejumlah negara lain sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika isu keamanan jalur pelayaran menjadi perhatian internasional. PBB mencatat pentingnya dialog, de-eskalasi, mediasi, dan diplomasi preventif sebagai fondasi untuk menjaga stabilitas kawasan.
Selain persoalan keamanan dan navigasi, Faisal mendorong pembentukan pengaturan keamanan regional yang komprehensif dan berkelanjutan. Menurutnya, pengaturan tersebut perlu mengatasi akar penyebab ketidakstabilan di kawasan.
Ia juga menyerukan agar kawasan Timur Tengah bebas dari senjata pemusnah massal. Faisal menekankan bahwa program nuklir untuk tujuan damai harus berada di bawah pengawasan dan jaminan perlindungan internasional.
Seruan tersebut menjadi bagian dari posisi Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan regional yang berdampak pada keamanan kawasan, jalur pelayaran, energi, dan rantai pasokan global.












