DK-Kinshasa — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terus menunjukkan dampak serius. Hingga 10 September 2026, otoritas kesehatan mencatat 7.022 kasus terkonfirmasi dengan 3.398 kematian.
Data tersebut tercantum dalam laporan situasi pemerintah terbaru yang dirilis pada Jumat (11/9/2026), sebagaimana dilaporkan Xinhua.
Dengan angka tersebut, tingkat kematian kasus atau case fatality rate (CFR) Ebola mencapai 48,4 persen. Sementara itu, sebanyak 1.671 pasien telah dinyatakan sembuh.
Wabah Meluas ke Tujuh Provinsi
Wabah Ebola yang dinyatakan pada Mei 2026 kini telah menyebar ke 62 zona kesehatan di tujuh provinsi RD Kongo.
Provinsi Sud-Ubangi menjadi wilayah terbaru yang melaporkan kasus Ebola setelah satu kasus dikonfirmasi pada Kamis (10/9/2026).
Kasus di Sud-Ubangi menjadi perhatian karena provinsi tersebut tidak berbatasan langsung dengan enam provinsi yang sebelumnya telah melaporkan kasus Ebola, yakni Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Tshopo, dan Bas-Uele.
Otoritas kesehatan menyebut kasus di Sud-Ubangi memiliki riwayat perjalanan dari wilayah yang sebelumnya telah terdampak wabah. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi penyebaran virus melalui mobilitas penduduk antarwilayah.
Salah Satu Wabah Ebola Terbesar
Wabah yang terjadi saat ini disebut telah menjadi epidemi Ebola terbesar dan paling mematikan dalam sejarah RD Kongo. Secara global, wabah tersebut menjadi epidemi Ebola terbesar kedua setelah wabah di Afrika Barat pada 2014–2016.
Perluasan wilayah terdampak ke Sud-Ubangi semakin memperbesar tantangan bagi otoritas kesehatan RD Kongo dalam melakukan pelacakan kasus, pengawasan kontak erat, isolasi pasien, serta pengendalian mobilitas dari wilayah terdampak.
Hingga 10 September 2026, sebanyak 1.671 pasien telah dinyatakan pulih. Namun, tingkat kematian yang mencapai 48,4 persen menunjukkan bahwa wabah tersebut masih memberikan dampak kesehatan yang sangat besar.
Perspektif Kesehatan dan Lingkungan
Perkembangan wabah Ebola menunjukkan pentingnya pendekatan One Health, yaitu pengendalian penyakit dengan mempertimbangkan keterkaitan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Pergerakan manusia dari wilayah terdampak ke daerah lain dapat mempercepat penyebaran penyakit, sehingga surveilans epidemiologi, penguatan fasilitas kesehatan, sanitasi, komunikasi risiko, dan pengawasan mobilitas menjadi bagian penting dalam pengendalian wabah.












