DK – Sulawesi Tenggara – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Wilayah Sulawesi Tenggara mendorong adanya sinkronisasi antara program penyaluran Jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan ketersediaan stok jagung di Perum Bulog. Langkah tersebut dinilai penting agar stok jagung yang telah tersedia dapat segera dimanfaatkan oleh peternak sebelum mengalami penurunan mutu akibat penyimpanan yang terlalu lama.
Ketua PINSAR Wilayah Sulawesi Tenggara, Harry S. Adi Wibowo, mengatakan pihaknya menerima sejumlah masukan dari peternak terkait kondisi fisik sebagian jagung yang diterima. Menurutnya, apabila stok jagung terlalu lama tersimpan tanpa penyerapan, kualitas fisiknya dapat mengalami penurunan sehingga memengaruhi minat peternak untuk memanfaatkannya.
“Jagung merupakan komoditas yang memiliki batas ketahanan mutu. Jika terlalu lama tersimpan tanpa penyerapan, kualitas fisiknya dapat menurun. Kami menerima masukan dari peternak terkait kondisi jagung yang ditemukan cukup banyak butiran pecah dan serbuk halus. Ini tentu menjadi perhatian bersama karena peternak membutuhkan bahan baku pakan dengan mutu yang baik,” ujar Harry, kepada media Datakepri.com, Sabtu (08/08/2026)
Ia menjelaskan, informasi serupa tidak hanya berasal dari peternak di wilayah Konawe, tetapi juga disampaikan oleh peternak di Kabupaten Muna. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan stok agar mutu jagung tetap terjaga hingga diterima oleh peternak.
Meski demikian, PINSAR Sultra mengapresiasi komitmen Perum Bulog yang telah melakukan penyortiran, repacking, dan pembersihan terhadap stok jagung sebagai upaya menjaga kualitas sebelum disalurkan.
“Kami mengapresiasi langkah Bulog yang telah melakukan penyortiran, repacking, dan pembersihan. Ini menunjukkan adanya komitmen untuk menjaga kualitas jagung. Namun menurut kami, solusi terbaik adalah memastikan penyaluran SPHP berjalan selaras dengan ketersediaan stok di gudang agar jagung tidak terlalu lama tersimpan,” katanya.
Harry menegaskan bahwa tujuan penyampaian masukan tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai bahan evaluasi bersama agar pelaksanaan program SPHP semakin efektif.
“Harapan kami, program penyaluran SPHP dapat disinergikan dengan kondisi stok jagung di Bulog. Dengan demikian, stok yang tersedia dapat segera dimanfaatkan oleh peternak, mutu jagung tetap terjaga, peternak memperoleh bahan baku pakan yang berkualitas, dan negara juga terhindar dari potensi kerugian akibat penurunan mutu stok yang terlalu lama disimpan,” tegasnya.
Sebagai mitra pemerintah, PINSAR Sulawesi Tenggara menyatakan siap terus memberikan masukan berdasarkan kondisi di lapangan untuk mendukung penyempurnaan kebijakan. Organisasi tersebut berharap sinergi antara Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, pemerintah daerah, dan PINSAR terus diperkuat agar program SPHP semakin tepat sasaran, menjaga kualitas jagung, serta memberikan manfaat maksimal bagi peternak dan ketahanan pangan nasional.












