DK-Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan pemerintah terus memperkuat sistem peringatan dini bencana dalam empat tahun terakhir, khususnya untuk menghadapi gempa bumi dan tsunami di wilayah rawan.
Menurutnya, penguatan sistem ini menjadi prioritas bersama antara pemerintah pusat, BNPB, dan BMKG.
“Pemerintah pusat, BNPB dan BMKG dalam empat tahun terakhir ini berusaha meningkatkan kemampuan peringatan dini terkait gempa bumi dan tsunami,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers daring, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, upaya penguatan tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana. Pemerintah memastikan perangkat peringatan dini tersedia dan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Suharyanto menyebut wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara kini telah dilengkapi berbagai teknologi peringatan dini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di kedua wilayah tersebut telah memiliki alat pendukung yang dipasang di kawasan pesisir.
“Teknologi ini ditempatkan di sepanjang laut atau pantai, BNPB juga telah membangun pusat pengendalian operasi dan sirine,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem tersebut telah menunjukkan efektivitas saat terjadi gempa pada Kamis pagi. Sirine peringatan dini di wilayah terdampak dilaporkan berbunyi sebagai bentuk pemberitahuan awal kepada masyarakat.
“Dengan berbunyinya sirine, masyarakat bisa mendapatkan informasi awal terkait gempa, bahkan potensi tsunami,” kata Suharyanto.
Menurutnya, berfungsinya sistem peringatan dini menjadi indikator penting bahwa upaya mitigasi bencana berjalan sesuai harapan serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.














