https://dpk.kepriprov.go.id/

Diguyur Hujan Tiap Hari, Pasar Silo Sawahlunto Kerap Jadi “Danau” Pemko Keruk Saluran air

 

DK-Sawahlunto (Sumbar) Intensitas hujan yang tinggi dalam sepekan terakhir kembali membuat kawasan Pasar Kuliner Silo, Kota Sawahlunto, tergenang. Air setinggi mata kaki menggenangi area lapak, mengganggu aktivitas jual beli dan menurunkan omzet pedagang. Kondisi yang disebut pedagang sebagai “danau kecil” itu terjadi hampir setiap hujan deras turun.

Merespons keluhan tersebut, Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan penanganan darurat pada Sabtu, 25 April 2026. Satu unit ekskavator diturunkan untuk membuat saluran baru yang memutus limpasan air dari arah Kebun Jati. Saluran itu diarahkan ke saluran utama eksisting agar gelombang air tidak lagi meluber ke kawasan pasar.

Kegiatan ini dihadiri dan dipantau langsung Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto, Tatang Sumarna. Meski hujan masih mengguyur, penggalian tetap dilakukan untuk mengejar target pengurangan genangan sebelum puncak musim hujan.

“Ini langkah teknis sementara. Kami potong jalur air dari Kebun Jati yang selama ini jadi penyumbang genangan terbesar di Pasar Silo. Untuk solusi permanen, kita menunggu realisasi penataan menyeluruh lewat dukungan CSR,” kata Tatang di lokasi pada Sabtu 25 /04/2026

Upaya permanen yang dimaksud Tatang berkaitan dengan rencana penataan kawasan Pasar Kuliner Silo melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Bukit Asam Tbk. Pemerintah Kota Sawahlunto telah menyerahkan proposal penataan secara resmi kepada PTBA pada Selasa, 21 April 2026.

Proposal itu mencakup normalisasi saluran, peninggian badan jalan kawasan pasar, pembuatan sumur resapan, hingga penataan lapak pedagang agar lebih tertib dan tahan banjir. Nilai usulan belum dirinci Pemko, namun disebut sebagai “solusi menyeluruh” atas persoalan genangan yang sudah menahun.

Sambil menunggu jawaban PTBA, Pemko memilih tidak berpangku tangan. Pembuatan selokan baru ini menjadi intervensi cepat untuk mengurangi dampak langsung ke pedagang. “Kalau hujan deras, air dari Kebun Jati seperti air terjun masuk ke pasar. Sekarang kita alihkan dulu,” tambah Tatang.

Bendahara Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto (Apesisto), Dewi, mengapresiasi gerak cepat Pemko. Namun pihaknya mendesak agar penataan permanen segera mendapat kepastian. Menurut Dewi, genangan bukan hanya soal becek, tapi menyangkut keberlangsungan usaha.

“Jujur, kalau tempat tertata dengan baik ,kami nyaman disini.Tapi begitu hujan, langsung jadi danau. Dagangan basah, pembeli lari, kami rugi. Kami harap proposal ke PTBA tempo hari bisa segera terealisasi,” ujar Dewi.

Ia khawatir ketidakpastian penataan menimbulkan keresahan di kalangan pedagang. “Supaya tidak ada gejolak di tengah masyarakat, khususnya pedagang. Kami butuh kepastian, kapan ditata, seperti apa bentuknya. Kalau sudah jelas, kami juga tenang,” tegasnya.

Dewi menyebut hampir 80 lapak aktif di Pasar Kuliner Silo. Saat tergenang, separuh pedagang memilih tidak buka karena akses becek dan khawatir barang dagangan rusak.

Hingga berita ini diturunkan, hujan masih mengguyur Kota Sawahlunto. Pihak PT Bukit Asam Tbk belum memberikan keterangan resmi terkait proposal CSR yang diajukan Pemko. Pedagang berharap musim hujan tahun ini jadi yang terakhir Pasar Silo berubah jadi “danau”.

Penulis: HermanEditor: Afriyanti