DK-Sawahlunto(Sumbar) Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Sawahlunto memperkuat pembinaan kepribadian lewat pendekatan spiritual. Bersama peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan, Rutan Sawahlunto menggelar program baca Al-Qur’an “Mengaji Sepanjang Usia” di Masjid At-Taubah, Kamis, 23 April 2026.
Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB. Begitu azan bergema dari masjid di dalam rutan, puluhan warga binaan bergegas mengambil wudu dan duduk melingkar. Suasana khusyuk langsung terasa. Tidak ada suara gaduh, hanya lirih huruf hijaiyah yang dieja perlahan.
Program ini menyasar dua kelompok. Pertama, warga binaan yang benar-benar belum mengenal huruf Al-Qur’an. Kedua, yang sudah bisa membaca tapi masih terbata-bata dan belum fasih tajwid. “Jadi metodenya kami bedakan. Yang nol, mulai dari Alif-Ba-Ta. Yang sudah bisa, langsung perbaikan makhraj dan tartil,” kata salah satu peserta magang Kemenaker.
Peserta magang membimbing dengan sabar. Satu pembimbing menangani 2–3 warga binaan. Mereka duduk berhadapan, membuka Iqra dan mushaf. Jari telunjuk bergantian menunjuk huruf, mulut menirukan pelafalan. Sesekali terdengar tawa kecil saat lidah keseleo menyebut `kho` jadi `ha`.
Staf Pelayanan Tahanan Rutan Sawahlunto mengawasi dari belakang saf. Kehadiran mereka memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif. “Ini pembinaan, tapi SOP pengamanan tetap jalan. Alhamdulillah semua kooperatif,” ujar petugas yang bertugas.
Bagi warga binaan, kegiatan ini jadi oase. AH, 34 tahun, mengaku baru pertama kali pegang Iqra setelah 10 tahun. “Dulu waktu kecil sempat ngaji, tapi berhenti. Di sini saya diingatkan lagi. Malu kalau sudah tua belum bisa ngaji,” ucapnya sambil menunduk. Warga binaan lain, RM, 41 tahun, menargetkan khatam sebelum bebas. “Biar anak di rumah bangga. Bapaknya di rutan tapi pulang bawa ilmu agama.”
Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Sawahlunto, Arlen Gumanti Syam, menegaskan program ini bukan seremonial. “Ini kegiatan positif yang harus berkelanjutan. Membaca Al-Qur’an itu skill dasar muslim. Kalau ini bisa, ibadah lain ikut kebawa,” kata Arlen. Ia berharap pembinaan spiritual jadi rem saat warga binaan kembali ke masyarakat.
Kolaborasi dengan peserta magang Kemenaker dinilai tepat. Selain menambah SDM pembimbing, kehadiran anak muda dari luar memberi warna baru. “Warga binaan jadi lebih semangat karena yang ngajar sebaya anak mereka. Suasananya cair, tidak kaku,” tambah Arlen.
Program “Mengaji Sepanjang Usia” sejalan dengan tujuan pemasyarakatan: membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan siap kembali ke masyarakat. Rutan Sawahlunto rutin menggelar pembinaan kerohanian Islam, Kristen, dan kegiatan keterampilan. Prinsipnya: waktu di rutan harus produktif.
Suasana kebersamaan menutup kegiatan pukul 11.00 WIB. Sebelum bubar, pembimbing dan warga binaan berdoa bersama. Terdengar lirih doa agar diberi kemudahan belajar dan istiqamah. “Mengaji tidak kenal usia, tidak kenal tempat. Bahkan di rutan pun, kalau niat, Allah mudahkan,” ucap salah satu peserta magang.
Dengan adanya program ini, Rutan Sawahlunto berharap Al-Qur’an benar-benar jadi pedoman hidup warga binaan. Bukan hanya lancar membaca, tapi memahami dan mengamalkan isinya setelah bebas nanti.


https://dpk.kepriprov.go.id/











