DK-Sawahlunto(Sumbar )- Kota Sawahlunto mencatatkan dua sejarah baru sekaligus dalam satu hari. Kamis (17/4/2026), Hotel Saka Ombilin Heritage resmi diperkenalkan lewat soft launching sebagai hotel bintang 4 pertama di Kota Warisan Dunia UNESCO itu. Di lokasi yang sama, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengumumkan rencana reaktivasi tambang batubara Sawahlunto dengan metode terbuka, ditargetkan beroperasi awal 2027.
Hotel Saka Ombilin Heritage menempati bangunan eks kantor tambang batubara di kawasan Ombilin. Gedung berarsitektur kolonial itu kini dialihfungsikan menjadi hotel dengan 52 kamar, ballroom, dan restoran yang menghadap langsung ke kawasan heritage. Transformasi aset ini hasil kolaborasi Pemko Sawahlunto dan PTBA yang dikawal General Manager PTBA Unit Pertambangan Ombilin, Yulfaizon.
Proses revitalisasi gedung berjalan sejak 2024. PTBA bertindak sebagai pemilik aset, Pemko sebagai mitra pengembangan pariwisata. “Ini bentuk komitmen PTBA mendukung Sawahlunto pascatambang. Aset heritage harus hidup dan memberi nilai ekonomi,” kata Yulfaizon di sela acara.
Soft launching dihadiri Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Ilham Yacob, Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto Rovanly Abdams, Ketua DPRD Sawahlunto, serta unsur Forkopimda. Turut hadir tokoh masyarakat dan perwakilan asosiasi pariwisata.
Dalam sambutannya, Arsal Ismail menyebut Hotel Saka Ombilin Heritage sebagai simbol transisi Sawahlunto. “Dari kota tambang, kini jadi kota tujuan wisata. PTBA akan terus mendukung lewat optimalisasi aset,” ujarnya. Arsal menambahkan, nama `Saka Ombilin` dipilih untuk menegaskan akar sejarah: `Saka` berarti tiang penyangga, `Ombilin` nama sungai yang menghidupi kawasan tambang sejak 1892.
Kehadiran hotel bintang 4 dinilai mengisi kekosongan fasilitas akomodasi premium di Sawahlunto. Selama ini, wisatawan rombongan besar dan agenda MICE tingkat provinsi sering terkendala kamar. “Dengan hotel ini, Sawahlunto siap jadi tuan rumah event besar,” kata Rovanly Abdams.
Di sela acara, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Ilham Yacob memaparkan agenda kedua yang tak kalah strategis: pembukaan kembali tambang batubara Sawahlunto. Metodenya open pit mining atau tambang terbuka, berbeda dengan tambang bawah tanah era kolonial hingga 1990-an.
“Saat ini fokus utama perusahaan adalah penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk mendapatkan persetujuan Kementerian ESDM,” kata Ilham. RKAB menjadi dokumen wajib sebelum operasi tambang dimulai.
Ilham merinci empat pilar utama dalam RKAB PTBA untuk Sawahlunto. Pertama, landasan legal sebagai dasar hukum operasional. Ini mencakup IUP, persetujuan lingkungan, hingga tata ruang. Kedua, alat kendali yang mengatur teknis produksi, volume, strategi pemasaran, hingga alokasi anggaran operasional dan CSR.
Ketiga, standar keamanan dan lingkungan. “K3 dan pelestarian lingkungan jadi syarat mutlak. Apalagi ini di kawasan heritage,” tegas Ilham. Pilar keempat adalah akuntabilitas, mencakup pelaporan berkala ke pemerintah dan transparansi penerimaan negara.
Menurut Ilham, satu tahapan krusial sudah dilalui. “Dari keseluruhan prosedur, telah didapat rekomendasi dari Kementerian Kebudayaan pada Desember 2026.” Rekomendasi itu syarat penting karena Sawahlunto menyandang status Warisan Dunia UNESCO sejak 2019. “Dengan rekomendasi itu, kami optimistis RKAB bisa tuntas. Rencana pengoperasian awal tahun 2027,” ujarnya.
Sekda Rovanly Abdams menyebut dua agenda Kamis itu sebagai `stimulus ganda`. Hotel mendorong kunjungan dan lama tinggal wisatawan. Tambang mendorong perputaran uang dan serapan tenaga kerja.
Data Pemko, tingkat hunian hotel di Sawahlunto sepanjang 2025 rata-rata 41%. Kehadiran hotel bintang 4 diproyeksi mendongkrak okupansi dan belanja wisatawan. “Efeknya ke kuliner, transport, oleh-oleh, dan pemandu wisata,” kata Rovanly.
Sementara untuk tambang, PTBA belum merilis angka resmi kebutuhan tenaga kerja. Namun berkaca pada operasi PTBA UPO sebelumnya, satu konsesi terbuka skala menengah bisa menyerap 300–500 tenaga kerja langsung, belum termasuk multiplier effect ke sektor pendukung.
“Pemerintah kota berharap langkah ini menghidupkan kembali roda ekonomi daerah yang sempat melambat sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru secara luas, khususnya bagi masyarakat Sawahlunto,” kata Rovanly.
Ia menegaskan, Pemko akan mengawal dua hal: pertama, serapan tenaga kerja lokal di hotel dan tambang. Kedua, kepatuhan terhadap kaidah heritage dan lingkungan. “Ini upaya harmonis mengoptimalkan status UNESCO World Heritage sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.
Sawahlunto dihadapkan pada tantangan pascatambang sejak produksi besar PTBA berakhir. Kota yang lahir dari batubara itu sempat kehilangan nadi ekonomi. Status UNESCO 2019 menghidupkan pariwisata, tapi belum cukup jadi penopang utama PAD dan lapangan kerja.
Kolaborasi PTBA–Pemko lewat Hotel Saka Ombilin Heritage dan rencana reaktivasi tambang mencoba menjawab itu. Hotel menjadi etalase baru pariwisata heritage. Tambang terbuka menjadi pengungkit ekonomi produktif dengan teknologi dan pengawasan baru.
PTBA menyatakan seluruh proses reaktivasi mengacu dokumen lingkungan dan rekomendasi kebudayaan. Area tambang terbuka direncanakan di luar zona inti heritage Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto. “Kami tidak akan menyentuh kawasan yang dilindungi UNESCO,” kata Ilham.
Jika RKAB disetujui ESDM sesuai jadwal, tahun 2027 Sawahlunto akan menjalani era baru: kota heritage dengan hotel bintang 4 dan tambang terbuka aktif. Dua sektor yang dulu lahir bersamaan pada akhir abad 19, kini disiapkan tumbuh beriringan lagi di abad 21.


https://dpk.kepriprov.go.id/











