https://dpk.kepriprov.go.id/

Polri Perkuat Ketahanan Ideologi Pelajar Bali Lewat Program Cegah Radikalisme

Kepolisian Negara Republik Indonesia memperkuat ketahanan ideologi generasi muda melalui langkah pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan Bali.

Densus 88 gelar roadshow kebangsaan di 70 sekolah SLTA Bali selama 13–23 April 2026
Densus 88 gelar roadshow kebangsaan di 70 sekolah SLTA Bali selama 13–23 April 2026.(dok : Tangkapan Layar).

DK-JakartaKepolisian Negara Republik Indonesia memperkuat ketahanan ideologi generasi muda melalui langkah pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan Bali. Upaya ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ancaman intoleransi, radikalisme, hingga kekerasan digital yang menyasar pelajar.

Melalui Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, khususnya Direktorat Pencegahan, Polri menginisiasi program bertajuk Ratakan Bali Pro Max sebagai strategi edukasi kebangsaan. Program ini diwujudkan melalui roadshow sosialisasi ke puluhan sekolah menengah atas di seluruh wilayah Bali.

Kombes Pol Moh Dofir menegaskan bahwa lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Sekolah dinilai menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai toleransi, integritas, dan nasionalisme.

“Sekolah menjadi garda terdepan dalam membangun karakter pelajar yang berintegritas, toleran, dan berjiwa nasionalis. Kami ingin memperkuat daya tangkal pelajar terhadap paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila,” ujarnya.

Program ini menargetkan 70 sekolah tingkat SLTA di Provinsi Bali dan dilaksanakan selama 10 hari, mulai 13 hingga 23 April 2026, dengan pendekatan edukatif dan interaktif.

Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Kepolisian Daerah Bali, Kementerian Agama Republik Indonesia, serta Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Sinergi ini bertujuan agar materi kebangsaan dapat disampaikan secara efektif dan diterima dengan baik oleh pelajar.

Selama kegiatan, pelajar diberikan pemahaman komprehensif mengenai nilai-nilai Pancasila, pentingnya toleransi, serta bahaya ekstremisme dan terorisme. Materi disusun secara kontekstual agar relevan dengan tantangan era digital.

Program ini juga menyoroti fenomena perundungan (bullying) yang dinilai dapat menjadi pintu masuk radikalisme jika tidak ditangani sejak dini.

“Intoleransi dan bullying dapat menjadi pintu masuk menuju radikalisme jika tidak ditangani sejak dini. Edukasi dan deteksi dini menjadi kunci utama,” kata Dofir.

Melalui kegiatan ini, pelajar didorong menjadi agen perubahan dengan menanamkan empati sosial, menjaga persatuan, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi.

Selain itu, mereka juga dibekali kemampuan menyaring informasi secara bijak agar tidak mudah terpengaruh konten negatif di ruang digital. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ideologi sekaligus mencegah penyebaran paham yang memecah belah.

Polri berharap generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi tangguh, berkarakter kuat, dan berintegritas tinggi di tengah berbagai tantangan ideologi global.