Ali Khamenei Tewas, Iran Tetapkan Berkabung Nasional 40 Hari

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Ayatollah Ali Khamenei saat menghadiri sebuah acara kenegaraan di Teheran, Iran, sebelum wafat dalam serangan udara gabungan AS-Israel.
Ayatollah Ali Khamenei saat menghadiri sebuah acara kenegaraan di Teheran, Iran, sebelum wafat dalam serangan udara gabungan AS-Israel.(dok :Tangkapan Layar).

DK-Jakarta — Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Otoritas Iran membenarkan kabar tersebut dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Peristiwa ini menjadi momen penting bagi Iran di tengah ketegangan kawasan. Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei memegang otoritas politik, militer, dan ideologis tertinggi negara.

Sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, kewenangannya melampaui presiden dan parlemen. Ia memiliki kontrol atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, serta keputusan strategis negara.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran timur, dari keluarga religius sederhana. Ia menempuh pendidikan agama di Mashhad sebelum melanjutkan studi teologi tingkat lanjut di kota suci Qom.

Selain dikenal sebagai ulama, Khamenei memiliki ketertarikan pada puisi dan sastra Persia klasik, yang membentuk sisi intelektualnya di luar aktivitas politik.

Awal Perjuangan dan Revolusi

Pada awal 1960-an, ia bergabung dengan gerakan Ruhollah Khomeini menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi. Sejak 1963, ia beberapa kali ditangkap oleh SAVAK, dinas intelijen rezim monarki.

Ia juga menjalani masa pengasingan akibat aktivitas revolusioner. Ketika gelombang protes 1978–1979 menggulingkan monarki, Khamenei kembali ke panggung politik dan membantu mengorganisasi demonstrasi besar di Mashhad.

Setelah Revolusi Islam 1979 berhasil, posisinya dalam struktur kekuasaan Iran semakin menguat.

Dari Presiden ke Pemimpin Tertinggi

Khamenei menjabat Presiden Iran pada 1981–1989, termasuk saat Perang Iran-Irak. Pada 1989, ia diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini.

Di bawah kepemimpinannya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) berkembang menjadi kekuatan dominan dalam militer, politik, dan ekonomi Iran.

Ia juga mendorong konsep “ekonomi perlawanan” untuk menghadapi sanksi Barat. Meski dikenal berhaluan keras, Khamenei sempat menyetujui perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Namun, setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut, ketegangan regional kembali meningkat. Iran kemudian memperkuat jaringan sekutu regional dalam strategi yang dikenal sebagai poros perlawanan.

Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Sementara bagi para pengkritiknya, ia dinilai membatasi ruang reformasi politik domestik selama masa kepemimpinannya.