Kriminolog Ingatkan Kejahatan Siber Marak saat Libur Nataru

Kriminolog Universitas Budi Luhur, Lucky Nurhadiyanto mengingatkan masyarakat waspada terhadap maraknya kejahatan siber saat libur Natal dan Tahun Baru.

Ilustrasi kejahatan siber
Ilustrasi kejahatan siber. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta: Kriminolog Universitas Budi Luhur, Lucky Nurhadiyanto mengingatkan masyarakat waspada terhadap maraknya kejahatan siber saat libur Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, pelaku kerap memanfaatkan kelengahan dan euforia masyarakat selama masa liburan.

Lucky menyebut pelaku kejahatan menjadikan kondisi emosional korban sebagai pintu masuk aksi penipuan. Menurutnya, modus penipuan dilakukan melalui berbagai cara yang terlihat meyakinkan, salah satunya scamming.

“Dalam konteks ini pelaku melancarkan beberapa modus, yang kita paling sering kenal adalah dalam konteks scamming ya. Jadi mereka berupaya gitu ya untuk memberikan satu penawaran, kemudian mereka mengkamuflasekan” kata Lucky saat berdialog dengan Pro3 RRI, di Jakarta, Jumat (26/12/2025).

Ia menjelaskan penawaran investasi bodong kerap dikemas dengan imbal hasil tidak masuk akal. “Investasi yang terkategorisasi sebagai investasi bodong dengan turnover yang sangat cepat,” ucapnya.

Ia menyebut, pelaku sering memanfaatkan kecanggihan-kecanggihan digital untuk melancarkan aksi penipuan. Lucky menambahkan modus penipuan lainnya, yakni phishing yang dilakukan dengan menduplikasi tampilan platform populer.

“Jadi mereka menduplikasi yang kita kenal sebagai misalkan ada pinjaman online yang cukup terkenal. Mereka akan mengubah tampilan visual tersebut agar kemudian para korbannya itu mempercayai dan kemudian melegitimasi,” katanya.

Ia menyebut penggunaan teknologi AI deepfake juga semakin memperparah kejahatan siber. Modus ini banyak memanfaatkan figur publik untuk menipu korban.

Lucky menilai kejahatan tersebut merupakan bentuk kejahatan konvensional yang dikemas dengan teknologi digital. Ia mengatakan korban sering tidak menyadari telah dimanipulasi.

Sementara itu, Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja mengingatkan risiko transaksi digital selama libur Nataru. Menurutnya, penggunaan QRIS dapat dimanipulasi oleh pelaku kejahatan.

Ardi menjelaskan QRIS palsu dapat mengalihkan dana ke pihak lain tanpa disadari pengguna. Menurutnya, risiko tersebut meningkat jika transaksi dilakukan di tempat tidak resmi.

“Karena QRIS itu juga bisa dimanipulir barcode-nya. Mereka ditempeli QRIS palsu ya, tanpa kita sadari, yaitu pembayaran bisa ke tempat bukan ke tempat yang dituju,” kata Ardi.

Ia mengimbau masyarakat hanya melakukan transaksi digital di tempat resmi dan terpercaya. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kejahatan siber selama libur nataru seperti sekarang.

“Jadi kalau kita melakukan spending ya, pembayaran itu, lakukan di tempat-tempat yang resmi. Kalau tidak jelas itu jangan lakukan pembayaran-pembayaran apapun,” ucapnya.