“Sebanyak Bareh Nan Di Tanak”: Kerendahan Hati Seorang Pelestari Silek Tradisi

 

DK-Sawahlunto- Di tengah berbagai upaya pelestarian budaya Minangkabau, sosok Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo dikenal sebagai pemuda yang konsisten menjaga dan mengembangkan Silek Tradisi Staralak di Kota Sawahlunto.

Namun di balik kiprahnya tersebut, tersimpan sikap rendah hati yang menjadi ciri khas seorang anak silek.

Ketika ditanya mengenai perannya dalam mengajarkan silek tradisi, Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo mengatakan:
“Saya hanya anak muda yang cinta akan silek. Apa yang saya ajarkan hanya sebanyak yang saya dapat, sebanyak bareh nan di tanak.”
Ungkapan “bareh nan di tanak” memiliki makna mendalam dalam budaya Minangkabau.

Secara sederhana, seseorang hanya dapat membagikan apa yang telah diterimanya dan dikuasainya. Filosofi ini mencerminkan sikap tidak berlebihan dalam mengaku ilmu, tidak merasa paling tahu, dan tetap menghormati para guru serta sumber ilmu yang telah diwariskan.

Bagi Syafri Efizon, ilmu silek bukanlah sesuatu yang dapat diklaim sebagai milik pribadi. Ilmu tersebut merupakan amanah yang diterima dari guru-guru terdahulu untuk dijaga, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ia selalu menempatkan dirinya sebagai pembelajar yang terus menimba ilmu dari para guru dan para tuo silek.

Semangat tersebut sejalan dengan ajaran para pendahulu Silek Tradisi Staralak yang diwariskan oleh Gaek Longiah dan diteruskan oleh Basri Datuak Malin Cayo. Dalam tradisi Minangkabau, seorang guru tidak hanya mengajarkan gerak dan teknik, tetapi juga menanamkan adab, kesopanan, dan kerendahan hati.

Nilai inilah yang terus dijaga oleh Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo dalam membina generasi muda. Baginya, melestarikan silek bukan sekadar mempertahankan jurus-jurus lama, tetapi juga menjaga akhlak dan karakter yang menjadi ruh dari silek itu sendiri.

Di era modern saat ini, sikap rendah hati seperti yang ditunjukkan Syafri Efizon menjadi contoh bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penghormatan kepada guru dan tradisi. Sebab sebesar apa pun ilmu yang dimiliki seseorang, akan selalu ada ruang untuk belajar dan menghargai mereka yang lebih dahulu menapaki jalan tersebut.

Melalui semangat pengabdian dan kecintaannya terhadap budaya, Syafri Efizon Sidi Madjo Lelo berharap Silek Tradisi Staralak tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Bukan untuk mencari pujian atau pengakuan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab menjaga warisan para leluhur agar tetap lestari dari generasi ke generasi.

Penulis: HermanEditor: Syafri