Menbud Fadli Zon: Museum Bukan Sekadar Penyimpanan, tapi Ruang Dialog Lintas Generasi

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan saat ditemui wartawan usai Deklarasi Peringatan Hari Museum Indonesia, Plasa Insan Berprestasi, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan.
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan saat ditemui wartawan usai Deklarasi Peringatan Hari Museum Indonesia, Plasa Insan Berprestasi, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan bahwa museum merupakan rumah pengetahuan, edukasi, serta ingatan kolektif bangsa.
Menurutnya, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar dan dialog lintas generasi.

“Museum bukan sekadar tempat penyimpanan, tapi juga menjadi tempat belajar dan ruang dialog lintas generasi,”
kata Menbud Fadli Zon saat menghadiri Deklarasi Hari Museum Indonesia (Harmusindo) 2025 di Plaza Insan Berprestasi, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Minggu malam (12/10/2025).

Museum Sebagai Pusat Pembelajaran Publik

Acara deklarasi tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah dalam memperkuat peran museum sebagai pusat pembelajaran publik yang inklusif, berkelanjutan, dan inovatif.
Menbud menekankan, museum juga merupakan jendela peradaban bangsa yang membuka wawasan masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan museum di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1778, ketika berdiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang kini dikenal sebagai Museum Nasional Indonesia.
Lembaga tersebut menyimpan ribuan koleksi budaya dan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi museum-museum modern di tanah air.

“Sejak berdirinya museum tersebut, pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun sejumlah museum lainnya seperti Museum Radya Pustaka, Museum Zoologi Bogor, Museum Proklamasi, dan Museum Sonobudoyo,”
ujar Fadli.

Asal Usul Hari Museum Indonesia

Menbud juga mengingatkan bahwa Hari Museum Indonesia (Harmusindo) berakar dari Musyawarah Museum Seluruh Indonesia ke-1 tahun 1962, yang kemudian disepakati secara nasional pada Pertemuan Nasional Museum tahun 2015 di Malang.

“Pertemuan Nasional Museum pada tahun 2015 dihadiri oleh 250 pengelola museum. Dari hasil musyawarah tersebut akhirnya disepakatilah tanggal 12 Oktober sebagai Hari Museum Indonesia,”
ucap Menbud Fadli.

Ia menegaskan bahwa museum merupakan etalase budaya bangsa, berperan sebagai garda terdepan dalam merawat artefak dan ekofak — dua unsur penting yang merekam jejak sejarah dan perjuangan kebudayaan Indonesia.

Museum Harus Adaptif dan Berkelanjutan

Sementara itu, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyampaikan bahwa museum di era modern harus bertransformasi menjadi lembaga pelestarian yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

“Museum hadir sebagai lembaga kebudayaan tidak hanya menjadi koleksi dan wajah budaya di masa lalu, tapi juga menjadi lembaga pelestarian budaya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat,”
ujar Restu Gunawan.

Dengan mengusung tema “Museum Berkelanjutan, Budaya Bermartabat,” peringatan Harmusindo 2025 menyoroti pentingnya konservasi koleksi, edukasi aktif, keterlibatan komunitas, dan inovasi penataan museum.

Budaya yang Hidup di Tengah Masyarakat

Restu berharap, masyarakat tidak sekadar melihat budaya sebagai peninggalan masa lampau, tetapi menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya memahami budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menghidupkannya sebagai nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,”
ucapnya.

Melalui peringatan Harmusindo, pemerintah berupaya memperkuat kesadaran publik bahwa museum bukan sekadar ruang benda mati, melainkan tempat hidupnya nilai-nilai kebudayaan dan identitas bangsa.