36 Hari Berjibaku, Tim Gabungan Berhasil Buka Akses ke Titik Api Karhutla TNBS

Tim gabungan Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Jambi berhasil membuka akses menuju area sumber titik api di kawasan gambut Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), setelah melakukan operasi pemadaman selama 36 hari.

Ilustrasi - Kobaran api merambat masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS)

DK-Jambi – Tim gabungan Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Jambi berhasil membuka akses menuju area sumber titik api di kawasan gambut Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), setelah melakukan operasi pemadaman selama 36 hari.

Kepala Pelaksana Satgas Karhutla Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan tim masih berupaya mendekati sumber api. Kondisi medan gambut yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman membutuhkan waktu serta dukungan peralatan khusus.

“Tim terus berusaha untuk bisa masuk dan sampai ke titik terdekat sumber api di lahan gambut kawasan TNBS,” kata Bachyuni di Jambi, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, alat berat untuk sementara menjadi peralatan utama dalam membuka akses menuju lokasi kebakaran. Peralatan tersebut digunakan untuk membuat jalur, membangun sekat bakar, sekaligus membersihkan kanal agar air dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pemadaman.

Selain operasi dari darat, Satgas Karhutla Jambi juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan TNBS. Upaya tersebut diharapkan dapat memicu hujan sehingga membantu mempercepat proses pemadaman.

“Untuk lahan gambut di TNBS, Satgas melakukan segala upaya pemadaman, baik lewat darat, udara seperti OMC dan water bombing agar karhutla bisa segera dipadamkan,” ujarnya.

FOM Head PT PDIW, Alex Fatra, mengatakan operasi penanganan karhutla di kawasan TNBS telah berlangsung sejak 25 Agustus 2026. Satgas Karhutla Jambi bersama Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT PDIW dan PT Tripupa Jaya secara bertahap membuka akses menuju sumber api.

Selama 36 hari operasi, tim menghadapi berbagai kendala, mulai dari kondisi gambut yang lembut, tumpukan kayu rebah hingga lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.

“Tim gabungan langsung membuat sekat bakar, pemadaman langsung, pendinginan, pembangunan embung dan pengerahan peralatan untuk mendekatkan personel ke lokasi kebakaran,” kata Alex.

Penanganan diperkuat sejak 22 September 2026 dengan mengerahkan puluhan personel gabungan, alat berat, pompa pemadaman dan dukungan udara. Dalam rangkaian operasi tersebut, tim telah membuka lebih dari 20 kilometer akses dan membangun lebih dari 8 kilometer sekat penyangga.

Sebanyak 16 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka jalur di tengah vegetasi dan tumpukan kayu rebah. Operasi juga didukung pompa bertekanan tinggi, peralatan khusus pemadaman gambut serta water bombing dari udara.

Perkembangan penting terjadi pada 30 September 2026 di kawasan Sungai Benuh. Tim berhasil menyelesaikan jalur terobosan sepanjang sekitar 4,8 kilometer menuju zona penyangga yang dilengkapi sekat bakar di kedua sisi serta akses menuju area titik api.

“Perkembangan utama pada 30 September terjadi di kawasan Sungai Benuh. Tim menyelesaikan jalur terobosan sekitar 4,8 kilometer menuju zona penyangga, disertai pembangunan sekat bakar di sisi kiri dan kanan serta jalur menuju area titik api,” ujarnya.

Di sekitar batas area kebakaran, pembangunan sekat bakar terus diperpanjang. Tim juga membangun embung untuk memperkuat ketersediaan air selama proses pemadaman.

Namun, terbukanya akses belum menandai berakhirnya operasi. Tim gabungan masih harus melakukan pemadaman, pendinginan dan pengamanan area guna mencegah api kembali meluas.

Kondisi medan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam operasi. Gambut yang lembut menyulitkan mobilisasi alat berat, sementara kayu rebah menghambat pergerakan personel. Sejumlah peralatan juga sempat mengalami kendala teknis dan harus mendapat penanganan mekanik di lapangan.

“Meski akses semakin terbuka, operasi belum berakhir. Tim gabungan masih melanjutkan pemadaman, pendinginan, pembangunan sekat bakar dan pengamanan batas area kebakaran untuk mencegah api kembali meluas,” kata Alex.

Terbukanya akses menuju kawasan Sungai Benuh menjadi perkembangan penting dalam penanganan karhutla TNBS. Jalur tersebut memungkinkan personel dan peralatan bergerak lebih dekat ke sumber api sekaligus memperkuat upaya pengendalian kebakaran di kawasan gambut tersebut.