DK-Aceh Tamiang: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau langsung sekolah-sekolah terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan meski dalam keterbatasan pascabencana.
Abdul Mu’ti mengunjungi SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, salah satu sekolah yang terdampak paling parah akibat banjir. Pada kesempatan tersebut, ia bertindak sebagai pembina upacara yang dihadiri para guru dan ratusan siswa.
Kondisi sekolah masih jauh dari normal. Banyak siswa kehilangan seragam karena terendam banjir, sementara sejumlah fasilitas seperti meja dan kursi mengalami kerusakan. Bahkan, sebagian siswa terpaksa mengikuti kegiatan sekolah dengan duduk di lantai.
Pada hari pertama masuk sekolah, kegiatan belajar mengajar formal belum dilaksanakan. Aktivitas diganti dengan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah. “Pemerintah berkomitmen menjaga keberlangsungan pendidikan meski dalam kondisi darurat,” ujar Abdul Mu’ti.
Kemendikdasmen telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang pembelajaran di sekolah terdampak bencana. Kebijakan ini bertujuan menjamin kelangsungan pendidikan di wilayah yang dilanda banjir dan longsor.
Berdasarkan data per 4 Januari 2026, tercatat 4.470 satuan pendidikan di Sumatra terdampak bencana. Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan 2.756 sekolah mengalami dampak banjir dan longsor.
Salah satu siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Raditya, mengaku senang bisa kembali ke sekolah meski seragamnya hilang tersapu banjir. “Hari pertama ini hanya gotong royong, bersih-bersih, dan silaturahmi dengan teman-teman,” ujarnya.
Kepala SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Saiful, mengatakan sebagian fasilitas sekolah rusak berat. “Buku perpustakaan sempat diselamatkan ke lantai dua, tetapi air banjir mencapai lantai dua setinggi pinggang,” ucapnya.
Secara umum, sekitar 90 persen sekolah di Aceh telah kembali beroperasi. Sebanyak 18 sekolah masih menggunakan tenda, sementara 288 sekolah lainnya masih dalam proses pembersihan. Adapun di Sumatra Utara dan Sumatra Barat, hampir seluruh sekolah sudah kembali melaksanakan pembelajaran.
Kemendikdasmen menyalurkan bantuan biaya pembersihan sekolah mulai dari Rp5 juta hingga Rp50 juta per sekolah sesuai tingkat kerusakan. Selain itu, disalurkan pula 15.500 paket perlengkapan sekolah (school kit), 78 unit tenda, serta 100 ruang kelas darurat.
Dana Operasional Pendidikan Darurat di Aceh tercatat mencapai Rp11,29 miliar. Pemerintah juga memberikan dukungan psikososial senilai Rp300 juta serta menyalurkan 90.000 eksemplar buku pelajaran bagi siswa terdampak bencana.
Guru dan tenaga kependidikan terdampak banjir dan longsor turut menerima tunjangan khusus. Sebanyak 16.467 orang menerima bantuan dengan total anggaran Rp32,9 miliar yang disalurkan secara bertahap pada Januari hingga Februari 2026.
Khusus di Provinsi Aceh, tunjangan diberikan kepada 379 guru PAUD, 4.098 guru pendidikan dasar, dan 3.381 guru pendidikan menengah dengan total anggaran mencapai Rp15,7 miliar.
Untuk Kabupaten Aceh Tamiang, Kemendikdasmen juga memberikan bantuan moril dan peningkatan mutu pendidikan, dengan nilai bantuan mulai dari Rp10 juta untuk TK hingga Rp25 juta untuk SMA dan SMK.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Mendikdasmen juga meninjau SD Negeri 4 Langsa Baro dan SDIT Muhammadyah Langsa yang turut terdampak bencana banjir.













