DK-Jakarta – Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, menilai nilai cinta tanah air tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi digital. Menurutnya, nilai kebangsaan harus terus ditanamkan kepada generasi muda sebagai pegangan utama dalam menghadapi arus perubahan global.
“Generasi muda boleh berpikir kritis dan maju mengikuti zaman. Namun cinta tanah air harus tetap menjadi pegangan utama,” ujar Linda dalam sarasehan nasional di Auditorium Yusuf Ronodipuro Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Linda yang juga dikenal sebagai Linda Agum Gumelar menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang para pendiri bangsa. Sejarah tersebut, menurutnya, membentuk karakter kebangsaan yang tidak dimiliki oleh semua negara.
“Indonesia merdeka karena perjuangan, bukan pemberian bangsa lain. Nilai kebangsaan itu harus dipahami generasi sekarang,” katanya.
Ia menilai, pendekatan kepada generasi digital tidak bisa dilakukan dengan cara-cara lama yang bersifat keras atau memaksa. Orang tua dan pendidik perlu memahami pola pikir generasi muda agar pesan kebangsaan dapat diterima dengan baik.
“Kita tidak bisa melawan dengan cara lama. Kita harus merangkul dan meluruskan dengan pendekatan yang tepat,” ucapnya.
Linda juga menekankan tantangan di ruang digital membutuhkan kolaborasi lintas elemen masyarakat. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan dinilai penting dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
“Ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh satu pihak. Semua elemen harus terlibat menjaga nilai kebangsaan,” ujarnya.
Ia mengingatkan adanya potensi paparan paham-paham berbahaya di ruang digital. Meski demikian, Linda mengajak semua pihak untuk tetap optimistis menghadapi masa depan generasi muda Indonesia.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Kita tidak boleh pesimis terhadap masa depan generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Pancasila Marga (PPM), Berto Izaak Deko, menegaskan bahwa ideologi Pancasila tetap menjadi perekat bangsa di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi.
“Pancasila bukan sekadar slogan atau hafalan. Nilainya harus hidup dalam sikap dan tindakan generasi muda,” ujarnya.
Berto menilai arus globalisasi berpotensi menggerus identitas kebangsaan jika tidak diimbangi dengan penguatan karakter. Oleh karena itu, peran organisasi kepemudaan dinilai strategis dalam menjaga persatuan bangsa.
“Kami di Pemuda Pancasila Marga terus mendorong penguatan karakter kebangsaan. Generasi muda harus bangga dengan identitas bangsanya,” katanya.
Ia menegaskan, penguatan ideologi kebangsaan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa.
“Negara, masyarakat, dan organisasi pemuda harus berjalan bersama. Ketahanan bangsa lahir dari kesadaran kolektif,” ucapnya.














