DK-Jakarta:Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyampaikan bahwa kerusakan cagar budaya akibat banjir bandang paling banyak terjadi di Provinsi Aceh. Tercatat sebanyak 34 situs cagar budaya di wilayah tersebut terdampak dan sebagian besar tertutup lumpur.
“Aceh paling besar, ada 34 situs Cagar Budaya terdampak banjir. Sumatra Utara hanya 7, dan Sumatra Barat hanya 2,” katanya dalam konferensi pers Penyampaian Bantuan Kemanusiaan Kementerian Kebudayaan di Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025).
Advertisement
Ia menjelaskan meskipun jumlah situs terdampak di Aceh paling banyak, tingkat kerusakannya masih tergolong ringan. Namun sejumlah lokasi mengalami dampak cukup parah, di antaranya makam Putroe Balee Sultan Mahfuzah dan Masjid Putri Umar.
Tidak hanya itu, wilayah Aceh Tengah juga mengalami kerusakan pada berbagai situs budaya. Menbud Fadli menyebut banjir menerjang banyak makam dan masjid tua di wilayah tersebut.
“Ada juga rumah adat Toweren di Aceh Tengah yang diterjang banjir cukup parah. Situs Loyang Ujung Karang di Aceh Tengah juga terkena longsor,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Kabupaten Aceh Utara ikut terendam banjir, sementara Aceh Timur juga mengalami kerusakan serius, termasuk situs Bukit Kerang dan Bukit Remis.
Advertisement
BNPB menyebut adanya empat kabupaten di Aceh yang hingga kini masih terisolir akibat banjir bandang. Kondisi tersebut membuat akses bantuan masih sulit dilakukan.
“Daerah yang masih sulit dijangkau atau terisolir akibat putusnya akses jalan dan jembatan adalah Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Singkil,” kata Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan pers, Selasa (2/12/2025).
Ia menuturkan bahwa Kabupaten Aceh Tenggara kini telah bisa diakses melalui jalur Sumatra Utara. Namun sejumlah akses utama lainnya masih terputus.
Akses Banda Aceh–Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang hingga kini belum dapat dilalui akibat runtuhnya jembatan Kutablang di perbatasan Bireuen–Lhokseumawe.














