DK-Jakarta — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menyarankan Kementerian Agama (Kemenag) untuk membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Kepesantrenan.
Usulan ini disampaikan Amirsyah menyusul insiden ambruknya Gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, keberadaan direktorat khusus itu sangat penting untuk mengawasi dan membina lebih dari 40 ribu pesantren di seluruh Indonesia.
“Melalui Kementerian Agama, yaitu sudah berkali-kali kita sampaikan bahwa membina, mengawasi semua pesantren yang 40 ribu lebih ya. Ini sudah sepatutnya dibutuhkan satu struktur birokrasi, yaitu sejak awal sudah kita katakan ada Direktorat Jenderal Pendidikan Kepesantrenan,” kata Amirsyah di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (7/10).
Perlu Sinergi Banyak Pihak
Amirsyah mengakui bahwa mengawasi pesantren sebanyak itu bukan pekerjaan mudah. Diperlukan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat agar pengawasan dan tata kelola lembaga pendidikan keagamaan dapat berjalan efektif.
“Jadi ini merupakan pihak-pihak yang harus bersama-sama ikut melakukan upaya dalam rangka melakukan tata kelola kembali. Gedung-gedung atau ya pesantren lah, lembaga pendidikan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pemerintah memperhatikan standar keselamatan dan infrastruktur pesantren agar peristiwa seperti di Ponpes Al Khoziny tidak terulang.
Basarnas: 67 Korban Tewas Ditemukan
Sementara itu, Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, yang bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), melaporkan bahwa hingga hari kesembilan pencarian, total 67 korban meninggal dunia berhasil ditemukan dari reruntuhan Ponpes Al Khoziny.
“Sampai dengan hari ke-9, Selasa 7 Oktober 2025, kami telah berhasil mengumpulkan 67 pack dengan rincian delapan body part. Terakhir, pada pukul 21.03 WIB [Senin (6/10)],” kata Bramantyo di Posko Tanggap Darurat Sidoarjo, Selasa (7/10).
Basarnas bersama tim gabungan terus melakukan pencarian dan identifikasi terhadap korban lainnya. Proses evakuasi disebut dilakukan dengan hati-hati mengingat kondisi bangunan yang masih rawan ambruk.














