Dk-Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong penguatan budaya pop sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan membuka semakin banyak peluang bagi kreator, komunitas, dan pelaku industri untuk mengembangkan karya lokal hingga menembus pasar global.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan penyelenggaraan Indonesia Comic Con (ICC) selama satu dekade menunjukkan konsistensi perkembangan ekosistem budaya pop di Indonesia. Menurutnya, keberlanjutan ajang tersebut dapat memperkuat ruang bagi kreator, komunitas, dan pelaku industri untuk mengembangkan budaya pop nasional.
“Indonesia Comic Con telah menjadi bagian perjalanan perkembangan budaya pop Indonesia selama satu dekade. Konsistensi menghadirkan kreator, komunitas, dan pelaku industri menunjukkan ruang ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan,” kata Irene saat menerima audiensi penyelenggara Indonesia Comic Con di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Irene menjelaskan keterlibatan berbagai pelaku kreatif dalam ICC menunjukkan besarnya potensi budaya pop sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Potensi tersebut dinilai dapat memperkuat industri kreatif nasional melalui pengembangan karya lokal dan kolaborasi antarpelaku.
“Indonesia Comic Con menghadirkan berbagai subsektor budaya pop, seperti komik, mainan, film, gim, musik, cosplay, dan komunitas kreatif. Ajang ini mempertemukan kreator dan komunitas untuk mengembangkan potensi budaya pop sebagai bagian penting ekonomi kreatif nasional,” ujarnya.
Dorong IP Lokal Masuk Pasar Global
Director of Panorama Media Andita Tirtawisata mengatakan Indonesia Comic Con juga diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) lokal. Keterlibatan kreator dalam negeri menjadi bagian penting untuk memperkuat industri kreatif melalui ajang budaya pop tersebut.
“Tujuan kami visi-misinya tetap untuk menaikkan IP lokal. Itu memang sudah salah satu visinya kami,” kata Andita.
Ia menjelaskan ICC memberikan ruang bagi kreator lokal untuk memperkenalkan karya mereka. Kesempatan tersebut juga terbuka bagi kreator yang belum memiliki merek besar melalui skema partisipasi yang lebih terjangkau.
Sementara itu, Project Manager Indonesia Comic Con Lulu Anwar mengatakan ICC menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pelaku budaya pop sekaligus wadah pengembangan industri ekonomi kreatif.
“Indonesia Comic Con sendiri itu adalah reuninya teman-teman pop culture dengan lima pilar. Yakni ada komik, toy, movie, music, dan game,” ucap Lulu.
Cosplay Jadi Panggung Talenta Kreatif
ICC tahun ini turut menghadirkan Raya Championship of Cosplay dan Indonesia Cosplay Grand Prix sebagai panggung bagi talenta kreatif Indonesia. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi para cosplayer untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengembangkan potensi industri budaya pop ke tingkat internasional.
Para pemenang kompetisi akan melaju ke babak final dan berkesempatan mewakili Indonesia dalam World Cosplay Summit di Nagoya, Jepang.
Selain kompetisi, ICC juga berkolaborasi dengan Hong Kong Economic and Trade Office untuk mendorong pertukaran kreator antara Indonesia dan Hong Kong.
Pemerintah berharap perkembangan budaya pop dapat terus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif baru. Dengan dukungan ekosistem yang kuat, karya dan kekayaan intelektual lokal diharapkan tidak hanya memiliki pasar di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing dan dikenal di tingkat global.












