Menurut Saifullah Yusuf, proses pembelajaran di Sekolah Rakyat sempat menghadapi berbagai tantangan pada masa awal pelaksanaan. Hal itu disebabkan adanya perbedaan latar belakang hingga kapasitas akademik para siswa.
Selain itu, siswa yang diterima di Sekolah Rakyat tidak melalui tes akademik. Sementara di sisi lain, proses belajar tetap menggunakan metode pembelajaran formal.
“Hari ini Pak Budi memang kita ajak untuk melihat bagaimana proses pembelajaran dengan fasilitas-fasilitas yang ada. Sungguh berterima kasih ini menjelang satu tahun banyak dukungan dari berbagai pihak dan ini kami harapkan,” katanya kepada wartawan, Rabu, 13 Mei 2026.
Selain pembelajaran formal, Sekolah Rakyat juga menerapkan konsep boarding school atau asrama. Dalam sistem tersebut, para siswa mendapatkan pendidikan karakter sebagai bagian dari pembinaan sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, Mensos juga menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah dan para guru yang dinilai bekerja penuh dedikasi di tengah berbagai tantangan.
Ia turut menyoroti capaian Sekolah Rakyat, termasuk sekitar 450 siswa tingkat SD, SMP, dan SMA yang tahun ini akan mengikuti ujian akhir.
“Saya ingin berterima kasih kepada kepala sekolah dan guru-guru sekolah rakyat yang di tengah-tengah tantangan seperti itu bekerja dengan penuh dedikasi. Sungguh-sungguh tidak mudah,” ujarnya.
Saifullah Yusuf menjelaskan Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum Multi-Entry Multi-Exit yang bersifat fleksibel. Hal itu diterapkan karena sebagian siswa merupakan anak putus sekolah dan ada yang usianya melebihi rata-rata usia sekolah formal.
“Karena mereka di antaranya putus sekolah, jadi usianya ada yang melebihi sekolah pada umumnya. Tapi oleh para guru tetap dipacu mereka mengejar ketertinggalan itu,” katanya.
Sementara itu, Budisatrio Djiwandono mengatakan kehadiran jajaran Karang Taruna bertujuan melihat langsung pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kunjungan tersebut, jajaran Karang Taruna juga berkeliling sekolah dan berdialog langsung dengan para siswa SRMA 13 Bekasi.
Budi mengaku tersentuh mendengar kisah para siswa yang sebagian berasal dari keluarga kurang mampu, termasuk anak yang kehilangan orang tua hingga anak dari pekerja harian, pemulung, dan office boy.
“Kita mendengar tadi banyak siswa yang sudah tidak memiliki orangtua, orangtua bekerja sebagai buruh harian, pemulung, OB, dan berpendapatan sangat terbatas. Tapi berkat hadirnya sekolah rakyat ini mereka bisa meraih cita-cita masa depan melalui pendidikan,” katanya.
Ia menambahkan Karang Taruna akan mendorong kader-kadernya membantu Kementerian Sosial Republik Indonesia mencari anak-anak yang membutuhkan bantuan untuk bisa menjadi siswa Sekolah Rakyat.
“Kami sadar betul bahwa perbaikan itu pasti harus ada ke depan. Tapi kami hormat dan apresiasi kepada Pak Mensos sebagai penggerak utama program ini bisa menghadirkan sekolah rakyat sesuai visi misi Bapak Presiden,” ujarnya.














