DK-Jakarta – Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyatakan Indonesia hingga kini belum mampu memproduksi logam tanah jarang (LTJ) secara optimal. Kondisi tersebut disebabkan keterbatasan teknologi pengolahan serta belum adanya kegiatan eksplorasi khusus yang berfokus pada LTJ atau rare earth.
Menurut Sugeng, logam tanah jarang di Indonesia tidak ditemukan sebagai komoditas tambang utama. LTJ umumnya merupakan produk turunan yang proses ekstraksinya membutuhkan teknologi pengolahan pertambangan tingkat tinggi.
“Logam tanah jarang bukan produk utama pertambangan kita. Ia merupakan produk lanjutan karena proses ekstraksinya memerlukan teknologi pengolahan yang kompleks dan berbiaya tinggi,” ujar Sugeng di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, kandungan LTJ banyak ditemukan pada material sisa atau limbah pertambangan, khususnya yang melekat pada bijih timah. Limbah tersebut memiliki potensi mengandung logam tanah jarang apabila diproses lebih lanjut melalui teknologi yang memadai.
Sugeng mengungkapkan, sejumlah kegiatan eksplorasi awal telah dilakukan di beberapa wilayah, seperti Kalimantan, untuk memetakan potensi kandungan LTJ. Namun demikian, kegiatan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum berlanjut hingga fase produksi.
Di sisi lain, upaya percepatan hilirisasi LTJ secara berkelanjutan mulai dijajaki oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Meski memiliki prospek strategis, pengolahan LTJ juga menghasilkan residu yang mengandung unsur radioaktif, seperti Thorium (Th-232) dan Uranium (U-238).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Bahan dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, Dadong Iskandar, menegaskan bahwa aspek keselamatan radiasi dan pengelolaan limbah menjadi prioritas utama sejak tahap riset hingga penerapan industri.
“Kami memastikan setiap proses hilirisasi logam tanah jarang berlangsung aman, baik dari sisi radiologi maupun lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager Research and Development PT Semen Indonesia, Oktoria Masniari, menyebut hilirisasi LTJ dapat mengoptimalkan pengolahan mineral monasit dan xenotim. Produk turunan yang dihasilkan antara lain mixed rare earth carbonate dan oksida LTJ yang dibutuhkan sebagai bahan baku kendaraan listrik serta perangkat elektronik berteknologi tinggi.














