
Tanjungpinang — Sejak Januari 2025, sebanyak 38 anak di Tanjungpinang menjadi korban pelecehan seksual. Data dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Tanjungpinang mengungkap bahwa 14 korban laki-laki dan 24 korban perempuan. Bahkan, 3 anak juga dilaporkan sebagai pelaku pelecehan.
Fakta Mencemaskan
Ada kesenjangan edukasi seksual: banyak orang tua belum mengajarkan anak-anak untuk memahami batasan dan cara melindungi diri dari pelecehan.
Motif pelecehan bervariasi: mulai dari “sama-suka” antar anak, ancaman barang atau uang, hingga pengaruh tawaran iming-iming yang memancing pelanggaran.
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Tanjungpinang terus meningkat: dari sekitar 120 kasus pada 2023, turun menjadi 80-an pada 2024, lalu di 2025 sudah tercatat 59 kasus seluruhnya—yang 38 di antaranya adalah pelecehan seksual.
Dampak Psikologis dan Upaya Pemulihan
Korban pelecehan kini mendapat pendampingan psikologis dari UPTD PPA DP3APM. Ada tiga psikolog yang bertugas membantu agar trauma tidak terus membekas hingga dewasa.
Kenapa Ini Harus Kita Perhatikan?
Angka yang tak bisa dianggap sepele
Bila 38 kasus hanya dari satu kota sejak 9 bulan awal tahun, bisa dibayangkan berapa banyak yang tak terlapor.Perlu pendekatan multidimensi
Bukan hanya penegakan hukum—edukasi sejak dini, kesadaran orang tua, keterbukaan masyarakat serta dukungan psikologis sangat dibutuhkan.Perlindungan anak sebagai kewajiban semua pihak
Pemerintah, sekolah, lingkungan, hingga komunitas harus aktif mencegah pelecehan melalui regulasi, pengawasan, edukasi, dan dukungan psikososial.
Penutup & Ajakan
Angka 38 ini bukan hanya statistik — itu adalah anak-anak yang butuh perhatian. Stigma takut bicara, malu, atau tak percaya diri sering membuat mereka terdiam.
Mari bantu menghentikan pelecehan dengan langkah konkret:
Ajak keluarga dan komunitas berbicara terbuka tentang pelecehan seksual
Tekankan pentingnya edukasi sejak usia dini di rumah dan sekolah
Dukung korban untuk mendapatkan pendampingan psikologis
Anak-anak adalah masa depan kita. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.














