Kemenkes Perkuat Empat Strategi Kesehatan Mata, Dorong Deteksi Dini Gangguan Penglihatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat empat strategi kesehatan mata masyarakat melalui skrining, penanganan dini, perlindungan penglihatan anak, serta kolaborasi lintas sektor.

PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026. (dok : Tangkapan Layar)

DK-Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat empat strategi kesehatan mata masyarakat melalui skrining, penanganan dini, perlindungan penglihatan anak, serta kolaborasi lintas sektor. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan mata dan mencegah gangguan penglihatan sejak dini.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa skrining mata secara berkala penting untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Pemeriksaan rutin diharapkan membantu masyarakat mengenali masalah penglihatan lebih awal sehingga penanganan medis dapat segera diberikan secara tepat.

“Pemeriksaan mata perlu menjadi bagian dari perilaku menjaga kesehatan sepanjang siklus kehidupan. Pemeriksaan berkala penting untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini dan memastikan masyarakat memperoleh penanganan tepat,” kata Andi Saguni dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).

Menurut Andi, deteksi dini harus diikuti dengan penanganan medis yang tepat agar gangguan penglihatan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Kelainan refraksi, dugaan katarak, glaukoma, retinopati, dan gangguan mata lainnya perlu ditindaklanjuti sesuai indikasi medis.

“Temuan kelainan refraksi harus mendapatkan koreksi yang tepat. Kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati, maupun gangguan lainnya harus ditindaklanjuti atau dirujuk sesuai indikasi dan kompetensi fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Selain pemeriksaan pada masyarakat umum, Andi menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan mata pada anak. Pasalnya, anak-anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa mereka mengalami gangguan penglihatan.

“Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan penglihatannya terganggu. Orang tua dan guru perlu waspada apabila anak sering menyipitkan mata,” katanya.

Strategi berikutnya adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor dan komunikasi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata. Upaya ini melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media agar perlindungan penglihatan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Kesehatan mata bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Kolaborasi lintas sektor penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta mewujudkan perlindungan kesehatan mata secara berkelanjutan,” tutur Andi.

Melalui empat strategi tersebut, Kemenkes berharap upaya pencegahan gangguan penglihatan dapat diperkuat melalui pemeriksaan berkala, deteksi dini, penanganan medis yang tepat, perlindungan kesehatan mata anak, serta keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan.