Kemkomdigi Siapkan Strategi Nasional untuk Tingkatkan Kapabilitas AI di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memetakan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kapabilitas kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia.

Nezar Patria: Agentic AI Jadi Tantangan Baru, Humas Harus Tingkatkan Kompetensi.
Nezar Patria: Agentic AI Jadi Tantangan Baru, Humas Harus Tingkatkan Kompetensi.(dok : TangkapanLayar)

DK-Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memetakan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kapabilitas kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan agar pemanfaatan AI tidak hanya sebatas penggunaan dasar, tetapi mampu mendorong transformasi di berbagai sektor.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan tantangan utama saat ini bukan lagi pada tingkat adopsi AI, melainkan pada kemampuan masyarakat dan pelaku usaha dalam memanfaatkannya secara optimal.

“Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup. Tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting,” kata Nezar, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurutnya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat adopsi AI yang tinggi. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut masih belum merata, baik di kalangan individu maupun dunia usaha.

Nezar menjelaskan sebagian besar pelaku usaha masih memanfaatkan AI untuk kebutuhan operasional dasar, sementara penggunaan AI sebagai pendorong transformasi bisnis masih terbatas. Kondisi serupa juga terjadi pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum seluruhnya terintegrasi ke dalam ekosistem digital.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah tengah menyusun Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial, Peta Jalan AI Nasional, serta Etika AI Nasional sebagai landasan pengembangan AI yang aman, terarah, dan bertanggung jawab.

Kemkomdigi juga mendorong pemanfaatan AI secara terstruktur di sektor pendidikan dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan kesesuaian berdasarkan usia peserta didik. Selain itu, teknologi AI terus dikembangkan di sektor kesehatan, termasuk untuk membantu proses skrining tuberkulosis dan mendukung layanan medis di daerah yang masih kekurangan tenaga dokter spesialis.

Di sektor jasa keuangan, AI dinilai berpotensi memperkuat deteksi penipuan, meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia, serta mendukung proses rekrutmen, termasuk di lembaga keuangan mikro.

Sementara itu, di lingkungan pemerintahan, Kemkomdigi mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas aparatur sipil negara (ASN) sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan publik.

Nezar menegaskan AI harus diposisikan sebagai alat pendukung yang melengkapi kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Karena itu, peningkatan literasi AI menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kecerdasan artifisial nasional yang inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.