BPBD Purbalingga Catat 10 Desa Terdampak Kekeringan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mencatat sebanyak 10 desa di enam kecamatan terdampak kekeringan pada musim kemarau. Akibatnya, sejumlah warga mulai membutuhkan bantuan air bersih.

Petugas BPBD Kabupaten Purbalingga menyalurkan bantuan air bersih ke dalam bak penampungan di Desa Pandansari, Kecamatan Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah
Petugas BPBD Kabupaten Purbalingga menyalurkan bantuan air bersih ke dalam bak penampungan di Desa Pandansari, Kecamatan Kejobong, Purbalingga, Jawa Tengah (DOK : Tangkapan Layar)

DK-Purbalingga – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mencatat sebanyak 10 desa di enam kecamatan terdampak kekeringan pada musim kemarau. Akibatnya, sejumlah warga mulai membutuhkan bantuan air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, mengatakan enam kecamatan yang terdampak meliputi Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang.

“Jumlah desa terdampak masih berpotensi bertambah seiring musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan,” kata Revon, Senin, 20 Juli 2026.

Ia menjelaskan penurunan debit sejumlah mata air menyebabkan pasokan air bersih di beberapa wilayah mulai berkurang.

Selain dipengaruhi musim kemarau, distribusi air bersih juga masih terkendala kerusakan jaringan akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada Januari 2026.

Menurut Revon, BPBD masih menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Serang dan Desa Kutabawa karena jaringan air di kedua desa tersebut belum sepenuhnya pulih.

BPBD bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Perwira Purbalingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak.

Hingga saat ini, pasokan air dinilai masih mencukupi untuk mendukung penyaluran bantuan. BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat dan bijak selama musim kemarau serta menjaga sumber-sumber air agar tetap tersedia hingga musim hujan.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, terutama saat beraktivitas di kawasan hutan maupun jalur pendakian.

Menurut Revon, jalur pendakian menjadi salah satu lokasi yang rawan terjadi kebakaran hutan karena akses pemadaman yang terbatas dan minimnya sumber air. Oleh karena itu, upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko karhutla selama musim kemarau.