Sambut Muharram, Paguyuban Ki Sapu Jagad Kembali Gelar Grebeg Suro ke-14 di Sawahlunto

 

DK-Sawahlunto(Sumbar) Sambut Muharram, Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagad kembali melaksanakan kegiatan Grebeg Suro* untuk tahun ke-14 kalinya. Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H berpadu dengan tradisi gunungan hasil bumi digelar di Lapangan Silo, Kota Sawahlunto, Selasa 16/6/2026. Ini sekaligus menjadi kegiatan tahunan Menyambut Muharram

Ribuan warga memadati lapangan sejak pagi. Kegiatan dibuka langsung Wali Kota Riyanda Putra bersama Wakil Wali Kota Jeffry Hibatullah. Hadir juga Ketua DPRD, unsur Polres, Sekda, kepala OPD, Kepala Cabang Bank Nagari, PT BA UPO, para camat, lurah, tokoh agama, dan tokoh adat. Kemeriahan ditambah Sawahlunto Youth Movement serta komunitas bikers se-Sumatera.

Acara dimulai dengan arak-arakan budaya keliling Lapangan Silo. Barisan penari, drumband pelajar, parade kostum bernuansa sejarah pertambangan, dan komunitas bikers membentangkan kain batik motif tambang berjalan beriringan. Tabuhan gamelan dan lantunan shalawat mengiringi, disambut antusias warga di pinggir jalan.

Usai arak-arakan, Wali Kota Riyanda menyampaikan sambutan. “Kegiatan ini sarana syiar Islam, penguatan nilai keagamaan, sekaligus wadah mempererat silaturahmi dan persatuan. Ini juga ruang kita melestarikan tradisi dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Sawahlunto,” ujarnya.

Riyanda menegaskan Tahun Baru Islam adalah momentum hijrah. “Hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Dimulai dari diri sendiri, baru ke keluarga dan kota. Sawahlunto butuh energi hijrah itu untuk bertransformasi dari kota tambang menjadi kota wisata budaya yang hidup dan menghidupi,” katanya.

Sementara tradisi Grebeg Suro mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya. “Grebeg Suro mengajarkan kita bersyukur atas hasil bumi dan berbagi ke sesama. Kalau tradisi ini hilang, identitas kita juga ikut hilang,” tambahnya.

Ketua Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagad, Iwan Darmawan, menjelaskan filosofi perpaduan dua tradisi ini. “Muharram mengajarkan semangat perubahan. Grebeg Suro yang ke-14 ini mengajarkan syukur dan kebersamaan. Dua nilai itu kami jaga di setiap kegiatan tahunan,” kata Iwan.

Puncak kegiatan masyarakat antusias berebut tumpeng buah dan hasil bumi terjadi setelah doa bersama. Gunungan berisi beras, sayur, aneka buah, dan jajanan tradisional didoakan lalu diperebutkan warga. Suasana pecah. Ada yang tertawa, ada yang berteriak kegirangan berebut berkah. Bagi masyarakat, membawa pulang isi gunungan dipercaya membawa keberkahan setahun ke depan.

Acara ditutup dengan doa bersama lintas tokoh agama. Melalui kegiatan ini, Sawahlunto meneguhkan harmoni antara nilai religius, budaya, dan kebersamaan masyarakat.

Penulis: HermanEditor: Afriyanti