Polri Ingatkan Potensi Ancaman Terorisme di Tengah Geopolitik Global

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengingatkan potensi ancaman terorisme di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Sejumlah anggota terorisme.
Sejumlah anggota terorisme.(dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengingatkan potensi ancaman terorisme di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Hal ini disampaikan Juru Bicara Densus 88 Antiteror, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana.

Ia mengatakan Polri saat ini memperkuat langkah antisipasi dan pemantauan, khususnya menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Lebaran 2026. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kapolri yang menyoroti situasi global yang sedang memanas.

“Beliau menekankan kepada Densus 88 untuk melakukan antisipasi dan memperkuat monitoring terhadap ancaman yang mungkin muncul sebagai efek domino dari situasi global,” ujar Mayndra dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, eskalasi konflik internasional berpotensi memicu munculnya simpatisan kelompok radikal. Kondisi ini bahkan dapat mengaktifkan kembali sel-sel teror yang sebelumnya tidak aktif.

Ia mencontohkan situasi saat gelombang Arab Spring yang memicu konflik berkepanjangan di Suriah dan melibatkan sejumlah kekuatan besar dunia, seperti Amerika Serikat dan Rusia, serta kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.

“Konflik tersebut berlangsung hingga sekitar 2017. Pada periode itu kita melihat cukup banyak masyarakat Indonesia yang terlibat dalam konflik di sana,” ujarnya.

Mayndra menjelaskan, pada masa tersebut tidak sedikit warga negara Indonesia yang berangkat ke Suriah untuk bergabung sebagai foreign fighter. Pada saat yang sama, muncul pula jaringan teror global yang dikenal dengan ISIS.

Keberadaan jaringan tersebut kemudian berdampak pada meningkatnya aktivitas kelompok radikal di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal itu ditandai dengan sejumlah aksi teror yang terinspirasi oleh jaringan tersebut.

Karena itu, Kapolri meminta jajaran Polri, khususnya Densus 88 Antiteror, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak konflik internasional terhadap keamanan dalam negeri.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menilai pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan nasional. Terutama dari sisi pertahanan, ekonomi, dan keamanan menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran.

“Saya menilai pernyataan tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengantisipasi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Kondisi ini menegaskan perlunya Indonesia berada dalam posisi siaga menghadapi berbagai kemungkinan,” kata Dave.