Donald Trump Siapkan Angkatan Laut Lindungi Kapal Energi di Timur Tengah

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah jika diperlukan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.(dok : Tangkapan Layar).

DK-Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah jika diperlukan. Langkah tersebut bertujuan menjaga kelancaran pasokan energi global di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Trump menegaskan kebijakan itu diambil untuk memastikan arus energi dunia tetap berjalan, khususnya melalui Selat Hormuz. Jalur laut sempit tersebut menjadi salah satu rute paling strategis karena sekitar seperlima minyak dan gas dunia melewatinya.

Namun, aktivitas pelayaran di kawasan itu hampir terhenti setelah Iran menutup jalur vital perdagangan minyak tersebut. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia serta meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan rumah tangga.

Ratusan Kapal Tanker Terdampar

Ketegangan di kawasan Teluk juga berdampak pada sektor pelayaran dan asuransi maritim. Sejumlah perusahaan asuransi dilaporkan menaikkan premi bagi kapal yang beroperasi di wilayah tersebut.

Berdasarkan data dari Lloyd’s List Intelligence, sekitar 200 kapal tanker minyak dilaporkan terdampar di kawasan Teluk akibat situasi keamanan yang belum stabil.

Trump mengatakan pemerintah AS akan menyediakan asuransi risiko politik dengan tarif wajar bagi perdagangan maritim, terutama sektor energi. Ia juga telah memerintahkan United States International Development Finance Corporation untuk memberikan jaminan tersebut serta menjanjikan pengawalan militer bagi kapal yang membutuhkan perlindungan.

Ancaman Lonjakan Harga Energi

Meski demikian, sejumlah pakar pelayaran menilai kebijakan asuransi dan pengawalan militer belum tentu mampu meredakan kekhawatiran perusahaan pelayaran. Analis memperingatkan jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak mentah global berpotensi menembus 100 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,6 juta.

Kenaikan tersebut diperkirakan akan berdampak luas terhadap harga bahan bakar dan energi di berbagai negara. Namun, Trump tetap optimistis harga energi akan kembali turun bahkan lebih rendah dari sebelumnya setelah konflik berakhir.