Abdul Mu’ti Ceritakan Pengalaman Mahasiswa S2 Tak Bisa Jawab Pertanyaan Saat Ujian Tesis

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menceritakan pengalamannya ketika menjadi penguji tesis mahasiswa program magister.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat menceritakan pengalamannya menjadi penguji tesis dalam Podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat menceritakan pengalamannya menjadi penguji tesis dalam Podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.(dok : Tangkapn Layar).

DK-Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menceritakan pengalamannya ketika menjadi penguji tesis mahasiswa program magister. Ia mengaku pernah menghadapi mahasiswa yang tidak mampu menjawab sejumlah pertanyaan saat ujian tesis berlangsung.

Mu’ti mengatakan pengalaman tersebut terjadi ketika dirinya duduk sebagai penguji dalam sidang tesis. Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa yang diuji dinilai kesulitan menjawab hampir seluruh pertanyaan yang diajukan.

“Ini cerita nyata ini di meja ujian, mahasiswa S2 sedang ujian tesis. Kemudian saya tanya pertanyaan satu nggak bisa, dua nggak bisa, tiga nggak bisa, empat sama nggak karu-karuan,” ujar Mu’ti dalam Podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurutnya, mahasiswa tersebut tidak mampu memberikan jawaban yang memadai atas sejumlah pertanyaan yang diajukan selama ujian berlangsung. Kondisi tersebut membuat proses sidang tesis berjalan cukup alot di antara para penguji.

Mu’ti menjelaskan mahasiswa itu juga telah menjalani masa studi yang jauh lebih lama dari ketentuan normal. Program magister yang umumnya dapat diselesaikan dalam empat semester, menurutnya, telah ditempuh mahasiswa tersebut hingga sepuluh semester.

Situasi tersebut kemudian memunculkan pertimbangan dari salah satu penguji lain agar mahasiswa tetap diluluskan. “Pak Mu’ti jangan tidak diluluskan dong,” kata Mu’ti menirukan pernyataan salah satu penguji dalam sidang tersebut.

Ia menuturkan mahasiswa tersebut dinilai telah berusaha menyelesaikan tesis meskipun kemampuan menjawab saat ujian dianggap kurang memadai.

“Bapak kan tahu sendiri, mahasiswa ini nggak bisa menjawab semua pertanyaan saya dengan baik,” kata Mu’ti menirukan jawabannya kepada penguji lain.

Mu’ti mengaku mempertanyakan dasar akademik untuk meluluskan mahasiswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan ujian dengan baik. Menurutnya, kelulusan seharusnya tetap didasarkan pada capaian akademik yang jelas dan terukur.

Dalam diskusi antar penguji, bahkan muncul usulan agar mahasiswa tersebut tetap diluluskan dengan pertimbangan masa studi yang sudah lama dijalani.

“Ya Bapak luluskan saja dengan syafaat,” ujar Mu’ti menirukan usulan penguji lain dalam sidang tesis tersebut.