SCash Gandeng KBI Perkuat Digitalisasi UMKM dan Ekosistem Komoditas Desa

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor ritel di Indonesia memerlukan dukungan teknologi digital untuk memperluas akses pemasaran dan memperkuat daya saing.

Perusahaan teknologi pengembangan ekosistem New Retail dan SuperApp SCash gelar kegiatan dukung UMKM dan Retail di Jakarta pada Selasa 3 Februari 2026.
Perusahaan teknologi pengembangan ekosistem New Retail dan SuperApp SCash gelar kegiatan dukung UMKM dan Retail di Jakarta pada Selasa 3 Februari 2026. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta – Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor ritel di Indonesia memerlukan dukungan teknologi digital untuk memperluas akses pemasaran dan memperkuat daya saing. UMKM tercatat mencakup hampir 99 persen struktur usaha nasional, namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital, tata kelola, dan akses pasar terstruktur.

CEO perusahaan teknologi pengembangan ekosistem New Retail dan SuperApp SCash, Michael Lee Eng Yew, mengatakan teknologi menjadi solusi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Menurutnya, penguatan UMKM harus dilakukan melalui pembangunan ekosistem digital yang berkelanjutan, efisien, dan transparan.

“SCash memposisikan diri sebagai mitra ekosistem jangka panjang dengan menyediakan solusi teknologi untuk menghidupkan kembali dan memperkuat usaha berbasis komoditas agar mampu beroperasi secara lebih berkelanjutan, efisien, dan transparan,” ujar Michael di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.

Dalam mendukung pemberdayaan UMKM dan ritel, SCash menjalin kemitraan strategis dengan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI). Kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung revitalisasi usaha berbasis komoditas, khususnya yang dikelola oleh koperasi dan pelaku usaha desa.

“Kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem komoditas nasional dengan menggabungkan kapabilitas teknologi dan pengembangan ekosistem milik SCash serta peran KBI sebagai badan usaha milik negara yang bertanggung jawab atas kliring, penjaminan, penyelesaian transaksi, dan tata kelola perdagangan,” jelasnya.

Melalui kolaborasi tersebut, SCash dan KBI mendorong UMKM, koperasi, dan wirausaha desa agar dapat berpartisipasi dalam pasar komoditas yang terstruktur, khususnya di sektor pertanian dan ekonomi berbasis komunitas. Inisiatif ini juga dinilai sejalan dengan agenda nasional dalam memperkuat perekonomian desa dan tata kelola komoditas.

Kemitraan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pelaku usaha desa yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Usaha Desa Indonesia (APUDSI), guna memastikan ekosistem yang dibangun inklusif dan berorientasi pada kebutuhan pelaku usaha di lapangan.

Salah seorang pelaku UMKM, Cahyo, menyambut positif dukungan pemberdayaan UMKM melalui infrastruktur digital dan ekosistem teknologi. Ia menilai UMKM membutuhkan perhatian serius agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Kalau mau bantu UMKM itu bagus dan patut diapresiasi. Sekarang semua serba aplikasi, kalau usaha masih konvensional tentu perkembangannya lebih lambat. UMKM dan ritel memang perlu teknologi supaya bisa maju,” ujarnya.

Selain pengembangan sistem digital dan transaksi, SCash juga aktif mendukung program sosial dan ekonomi melalui kemitraan dengan berbagai organisasi lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan platform dan kolaborasi lintas sektor guna menciptakan ekosistem digital terintegrasi.

Melalui pendekatan ini, SCash berharap pelaku usaha, koperasi, dan komunitas desa dapat beroperasi secara lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah transformasi ekonomi digital nasional.