DK-Jakarta – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengajak anak laki-laki untuk berani berbicara dan membuka perasaan demi menjaga kesehatan mental serta mencegah terjadinya krisis psikologis. Seruan tersebut disampaikan menyusul kasus seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidup akibat tekanan mental berat.
“Selama ini anak laki-laki kerap dibebani stereotipe harus selalu kuat dan menahan emosi, sehingga enggan berbicara ketika menghadapi tekanan. Salah satu inisiatif yang kami lakukan adalah memperkuat anak laki-laki agar berani speak up terhadap apa yang mereka alami,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam konferensi pers di kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurut Arifah, anak laki-laki juga membutuhkan dukungan mental dan emosional, termasuk ruang aman untuk bercerita serta mencari pertolongan. Namun, stigma maskulinitas masih membuat banyak anak memilih diam dan tidak melapor ketika mengalami tekanan atau kekerasan.
“Laki-laki seolah dipaksa harus selalu kuat dan tidak boleh mengeluh. Padahal mereka juga manusia, bisa mengalami kekerasan, dan berhak untuk bercerita,” ujarnya.
Terkait kasus di Kabupaten Ngada, Arifah menyampaikan bahwa Kementerian PPPA bersama kepolisian masih mendalami penyebab korban mengakhiri hidup. Hingga kini, belum ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik, namun dugaan adanya kekerasan psikis masih terus diselidiki.
“Tidak terlihat adanya kekerasan fisik. Namun untuk kekerasan psikis, ini yang sedang kami dalami. Kami ingin mengetahui apa yang menyebabkan anak mengambil keputusan yang sangat tidak diinginkan tersebut,” kata Arifah.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut merespons kasus tersebut dengan menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan mental, khususnya di tingkat layanan dasar.
“Saya ingin menyiapkan layanan psikolog klinis di masing-masing puskesmas, supaya gangguan kesehatan jiwa tidak langsung masuk rumah sakit jiwa, tetapi bisa ditangani lebih awal di puskesmas,” ujar Budi saat diwawancarai di kawasan South Quarter, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Januari 2026.














