Hampir 1.000 Keluarga Dievakuasi Akibat Aktivitas Gunung Mayon

Otoritas Filipina mulai mengevakuasi hampir 1.000 keluarga dari desa-desa di sekitar Gunung Mayon, Provinsi Albay, Pulau Luzon. Langkah darurat ini diambil setelah gunung berapi paling aktif di negara tersebut kembali mengeluarkan lava, Kamis (8/1/2026).

Gunung berapi Mayon, yang terletak di Provinsi Albay, Pulau Luzon, Filipina.(dok : Tangkapan Layar).
Gunung berapi Mayon, yang terletak di Provinsi Albay, Pulau Luzon, Filipina. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Manila: Otoritas Filipina mulai mengevakuasi hampir 1.000 keluarga dari desa-desa di sekitar Gunung Mayon, Provinsi Albay, Pulau Luzon. Langkah darurat ini diambil setelah gunung berapi paling aktif di negara tersebut kembali mengeluarkan lava, Kamis (8/1/2026).

Badan Penanggulangan Risiko Bencana Nasional Filipina atau NDRRMO melaporkan sedikitnya 963 keluarga dari 13 desa di kaki Gunung Mayon telah mengungsi. Mengutip Xinhua, para warga kini menempati pusat-pusat evakuasi yang disiapkan pemerintah daerah di seluruh Provinsi Albay.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Mayon telah dipantau sejak Selasa (6/1/2026). PHIVOLCS menaikkan status gunung tersebut ke Level 3 atau Siaga, yang menandakan adanya peningkatan potensi erupsi berbahaya.

Para ahli vulkanologi memperingatkan kemungkinan terjadinya letusan eksplosif dalam beberapa hari atau minggu ke depan. Kenaikan status ini dipicu oleh guguran kubah lava yang memicu arus piroklastik atau awan panas di lereng gunung.

PHIVOLCS menyebut terdapat peningkatan risiko aliran lava serta arus piroklastik di lereng atas hingga tengah gunung. Arus piroklastik diketahui dapat melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam dan berpotensi mengancam permukiman di sekitarnya.

Dalam laporan terbarunya, PHIVOLCS mencatat satu kejadian gempa vulkanik, 162 peristiwa longsoran batu, serta 50 aliran densitas piroklastik. Longsoran batu terpantau di Lembah Miisi, Bonga, dan Basud yang berada di lereng selatan, timur, dan tenggara Gunung Mayon.

Gunung Mayon dikenal secara global karena bentuk kerucutnya yang hampir sempurna. Namun di balik keindahannya, gunung ini memiliki sejarah panjang letusan eksplosif yang mematikan.

Letusan terbesar yang tercatat terjadi pada 1814, saat erupsi dahsyat menghancurkan Kota Cagsawa dan menewaskan lebih dari 1.200 orang. Otoritas Filipina mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi perintah evakuasi dan menjauhi zona bahaya demi keselamatan bersama.