DK-Tanjungpinang-Pesan dalam Gurindam 12 karya Raja Ali Haji kembali menjadi rujukan penting tentang jati diri seorang Muslim. Pasal pertama bait pertama—“Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama”—dianggap sebagai dasar moral yang tetap relevan hingga kini.
Ustaz Satrio, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Tanjungpinang, menjelaskan bahwa pasal tersebut menegaskan hubungan erat antara keyakinan dan identitas seorang Muslim. Menurutnya, nilai yang ditanamkan Raja Ali Haji bukan sekadar nasihat sastra, melainkan panduan hidup yang menempatkan agama sebagai pusat pembentukan karakter.
Bait pertama itu merujuk pada ajaran Al-Hajj ayat 78 tentang pemberian nama Muslim. Ustaz Satrio menekankan bahwa identitas seorang Muslim tidak hanya menjadi gelar formal, tetapi tanggung jawab moral yang wajib dijaga melalui keyakinan dan perilaku sehari-hari.
“Nama Muslim akan hidup ketika agama dipegang dengan sungguh-sungguh,” ujar Ustaz Satrio, Selasa (25/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa menjalankan agama berarti menjaga konsistensi nilai kebaikan dalam setiap kondisi. Karena itu, pesan Gurindam 12 tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra Melayu klasik, tetapi pedoman agar seorang Muslim tetap kokoh pada prinsip keimanan.
“Barang siapa tidak memegang agama, maka hilanglah kehormatan nama yang disandangnya,” tegasnya.
Ustaz Satrio menambahkan bahwa Gurindam 12 pasal pertama hingga kini terus menjadi rujukan pendidikan moral bagi masyarakat Kepulauan Riau. Ajarannya dipandang relevan dalam membangun karakter masyarakat yang berpegang pada akhlak, keimanan, dan kejujuran.














