Harga BBM Naik di Indonesia, Malaysia Justru Turunkan RON95 Jadi Rp7.660 per Liter

Ilustrasi harga minyak turun

DK-TANJUNGPINANG – Saat masyarakat Indonesia masih bergulat dengan harga bahan bakar yang tinggi, Malaysia justru mengambil langkah mengejutkan dengan menurunkan harga bensin RON95. Pemerintah Negeri Jiran resmi menetapkan harga baru sebesar RM1.99 per liter atau sekitar Rp7.660, berdasarkan kurs saat ini (1 Ringgit = Rp3.849,88).

Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, sebagai bagian dari program rasionalisasi subsidi BBM yang tengah disiapkan pemerintahnya. Menurut laporan Autobuzz Malaysia, skema subsidi terbaru ini ditargetkan akan menguntungkan sekitar 18 juta rakyat Malaysia, khususnya generasi muda dan pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online dan kurir.

Meski mekanisme teknisnya baru akan dirilis akhir September 2025, harga subsidi baru sudah diberlakukan sebagai masa transisi menuju sistem subsidi yang lebih tepat sasaran.

Harga BBM di Indonesia Masih Tinggi

Sebaliknya, di Indonesia harga BBM masih tergolong tinggi. Pertalite, yang masuk kategori bahan bakar bersubsidi, masih dijual Rp10.000 per liter. Sedangkan Pertamax, yang banyak digunakan oleh pengguna mobil pribadi, berada di kisaran Rp12.500 per liter.

Bahkan di SPBU swasta seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo, harga bensin RON92 hingga RON95 kini dibanderol Rp12.600 hingga Rp13.300 per liter. Jika dibandingkan, harga RON95 di Malaysia lebih murah hingga Rp5.000 per liter daripada harga setara di Indonesia.

Padahal, RON95 adalah jenis bahan bakar beroktan tinggi yang biasa digunakan oleh kendaraan modern dan ramah lingkungan.

Subsidi BBM Malaysia Hanya untuk yang Berhak

Namun perlu dicatat, harga RM1.99 per liter hanya berlaku bagi warga yang memenuhi syarat subsidi. Pemerintah Malaysia juga akan menerapkan sistem baru bernama T15, yang mengecualikan 15% masyarakat berpenghasilan tertinggi, warga asing, dan kalangan ultra kaya dari subsidi bahan bakar. Kelompok ini akan membayar harga pasar, yakni sekitar RM2.62 per liter atau Rp10.080, yang setara dengan harga Pertalite di Indonesia.

Langkah ini dinilai sebagai strategi efisiensi anggaran, mengingat subsidi RON95 selama tahun 2023-2024 telah menghabiskan hampir RM20 miliar per tahun. Pemerintah Malaysia berharap dengan sistem baru ini, anggaran subsidi bisa lebih efisien dan dialihkan ke sektor lain yang lebih membutuhkan.

Indonesia Masih Godok Pertamax Green, tapi Harga Tetap Tinggi

Sementara itu di Tanah Air, wacana penghapusan Pertalite dan transisi ke bahan bakar rendah emisi seperti Pertamax Green masih menjadi perbincangan. Namun dengan harga BBM yang masih tinggi dan kendaraan listrik yang belum merata, masyarakat kelas menengah ke bawah masih menanggung beban biaya energi yang tak ringan.

Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan ulang kebijakan energi dan subsidi BBM yang lebih adil serta berpihak pada kelompok rentan.

Penulis: AgusEditor: Herman