DK-Jakarta — Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo menegaskan bahwa jurnalis memiliki naluri profesional untuk memberitakan berbagai peristiwa, termasuk aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Pernyataan tersebut disampaikan untuk menepis narasi negatif di media sosial yang menyebut lima jurnalis yang hilang kontak nekat memasuki zona berbahaya.
Dwi menjelaskan, profesi jurnalistik menuntut kecepatan dalam memperoleh dan menyampaikan fakta kepada masyarakat ketika terjadi sebuah peristiwa.
“Semua insan pers mempunyai naluri ya, mencari berita sudah terbentuk, sudah ada sejarahnya, metodenya ketika ada berita di depan, yang diutamakan peristiwa secepatnya. Karena itu naluri yang dibentuk pun profesi ini sudah menjadi akar rumput, dimana kita harus respect kalau ada peristiwa untuk memberitakan fakta yang sebenarnya kepada masyarakat,” kata Dwi Pambudo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, jurnalis, termasuk pewarta foto, tidak sembarangan dalam menjalankan tugas peliputan, khususnya ketika berhadapan dengan bencana alam atau berada di kawasan yang memiliki risiko keselamatan tinggi.
Karena itu, setiap peliputan di wilayah berbahaya membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang, termasuk mempertimbangkan kondisi lapangan serta aspek keselamatan.
PFI Minta Warganet Bijak Bermedia Sosial
Dwi meminta masyarakat dan warganet menghargai profesi jurnalis dengan menyampaikan komentar secara bijak, terutama ketika menyangkut kondisi lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian.
Ia menegaskan, kelima jurnalis tersebut merupakan bagian dari insan pers yang menjalankan tugas untuk memperoleh dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak selalu membuat konten-konten atau berita-berita yang tidak terverifikasi. Kami juga mengimbau kepada para pembuat konten-konten yang tidak bertanggung jawab mohon dikurangi,” ujarnya.
Dwi juga mengajak masyarakat mengurangi penyebaran informasi yang tidak memberikan manfaat, terlebih informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi menimbulkan keresahan bagi keluarga maupun masyarakat.
“Kita mengajak kepada semua masyarakat untuk mengurangi semua berita-berita yang tidak bermanfaat. Karena teman-teman yang berjuang meliput di Krakatau termasuk teman-teman yang mencari fakta dan peristiwa, mempunyai kualitas mengedepankan informasi untuk kepentingan pers Indonesia,” katanya.
Minta Dukungan dan Doa untuk Lima Jurnalis
Dwi menegaskan bahwa jurnalis menjalankan tugas berdasarkan amanat Undang-Undang. Dalam kondisi seperti saat ini, ia meminta masyarakat memberikan dukungan moral dan doa untuk keselamatan lima jurnalis serta tiga awak kapal yang hilang kontak.
“Bahwa yang kita butuhkan adalah doa dan dukungan, doa moral, setidaknya kita sebagai bangsa yang berdaulat atau bangsa yang memiliki nilai moral, kemanusiaan. Mohon nilai-nilai kemanusiaan kita depankan, apapun itu profesinya, apapun itu bentuk jabatannya, tolong hindari untuk membahas yang tidak penting,” tegasnya.
PFI berharap masyarakat mengedepankan nilai kemanusiaan selama proses pencarian berlangsung. Penyebaran informasi yang terverifikasi serta dukungan terhadap keluarga dan tim SAR dinilai lebih penting dibandingkan membuat spekulasi mengenai kondisi para jurnalis dan awak kapal.










