DK-Manado – Masyarakat di Tomohon, Sulawesi Utara, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya dari aktivitas Gunung Lokon. Ancaman utama saat ini adalah kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Peringatan tersebut disampaikan Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam laporan aktivitas gunung yang diterima di Manado, Sabtu (18/4/2026).
“Warga juga perlu waspada terhadap kemungkinan erupsi freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba,” ujarnya.
Dalam laporan periode 16–31 Maret 2026, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung diimbau mewaspadai potensi lahar, terutama saat musim hujan atau ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama di wilayah puncak.
Selama periode tersebut, aktivitas kegempaan tercatat cukup signifikan, meliputi 42 kali gempa embusan, satu kali tremor non-harmonik, 43 kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, serta 61 kali gempa tektonik jauh.
Berdasarkan pengamatan visual, terlihat embusan asap putih tipis dengan ketinggian mencapai sekitar 25 meter di atas kawah. Aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa vulkanik dangkal, sementara gempa vulkanik dalam relatif jarang terjadi.
Badan Geologi juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang wajib dipatuhi masyarakat, pengunjung, dan pendaki. Di antaranya, tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah Tompaluan yang menjadi pusat aktivitas gunung.
Apabila terjadi letusan disertai hujan abu, masyarakat diimbau tetap berada di dalam rumah. Jika berada di luar, disarankan menggunakan pelindung seperti masker untuk hidung dan mulut serta kacamata untuk melindungi mata.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar di sungai-sungai yang berhulu dari puncak gunung, terutama saat curah hujan tinggi.


https://dpk.kepriprov.go.id/











