DK- Sawahlunto(Sumbar ) Delapan bulan pasca relokasi ke lokasi baru, para pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Pasar Silo, Sawahlunto, menghadapi tekanan ekonomi serius. Jual beli yang terus sepi, omzet yang anjlok, serta fasilitas yang dinilai belum memadai membuat mereka sepakat untuk kembali berdagang di lokasi lama, termasuk kawasan sekitar Lapangan Segitiga.
Harapan peningkatan usaha setelah relokasi justru berbalik. Aktivitas transaksi di lokasi baru disebut merosot tajam dibanding saat pedagang masih menempati lokasi lama. Kondisi itu diungkapkan sejumlah pedagang saat ditemui di lapak relokasi, Senin (14/4/2026).
“Jangankan berkembang, untuk bertahan saja sulit,” ujar seorang pedagang. “Tabungan yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil dagang sudah habis. Untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak, kami terpaksa berutang.”
Keluhan serupa disampaikan Ane (35). Ia mengaku omzet usahanya turun drastis sejak pindah. Sepinya pembeli membuat perputaran ekonomi di lapak relokasi nyaris terhenti.
Selain sepinya pembeli, pedagang menyoroti kondisi fasilitas dasar. Lantai lapak masih berupa tanah sehingga becek dan berlumpur saat hujan. Penerangan terbatas membuat sebagian area gelap pada malam hari. Fasilitas penunjang seperti tempat ibadah juga belum tersedia secara memadai, baik bagi pedagang maupun pengunjung.
Menurut pedagang, sejumlah janji penataan agar lokasi relokasi menjadi lebih layak belum terealisasi hingga kini. “Sudah delapan bulan seperti ini. Kami tidak bisa terus begini,” kata pedagang lain yang enggan disebut namanya.
Dalam kondisi terhimpit, para pedagang menegaskan akan kembali berdagang di kawasan lama. Titik yang disasar adalah pinggir trotoar di sekitar Lapangan Segitiga. Mereka menekankan langkah itu bukan bentuk penolakan terhadap penataan kota.
“Kami tidak mengusik taman. Kami hanya berdagang di pinggir trotoar,” ujar seorang pedagang. Pernyataan itu merujuk pada area yang saat ini dibongkar PT Bukit Asam (PTBA) untuk keperluan penataan taman di depan Saka Ombilin Heritage Hotel.
Situasi ini menempatkan pedagang pada dilema: mengikuti kebijakan relokasi atau mempertahankan nafkah keluarga. Kawasan relokasi diketahui berada di bawah kuasa penggunaan lahan PT Bukit Asam melalui skema pinjam pakai dengan Pemerintah Kota Sawahlunto.
Pedagang menegaskan tidak terlibat dan tidak memahami detail kesepakatan antara PTBA dan Pemko terkait izin pinjam pakai tersebut. Bagi mereka, kebutuhan mendesak adalah ruang hidup yang layak untuk mencari nafkah.
“Kalau pinjam pakai lahan belum bisa, kami mohon pimpinan PTBA berkenan membantu melalui CSR untuk menata tempat ini agar lebih layak,” harap Dewi, Bendahara Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto (Apesisto) yang menaungi puluhan pedagang di lokasi relokasi. “Kami butuh tempat mencari nafkah, memenuhi kebutuhan harian, dan membiayai sekolah anak.


https://dpk.kepriprov.go.id/











