DK-Jakarta — Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memprediksi jumlah pergerakan masyarakat selama masa mudik Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,9 juta orang. Kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor diperkirakan masih menjadi moda transportasi utama yang digunakan masyarakat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan hasil simulasi pemerintah menunjukkan potensi kepadatan tinggi pada dua tanggal utama saat arus mudik.
“Dari hasil simulasi kami, ada dua tanggal yang pada saat mudik akan terjadi kepadatannya. Dua tanggal itu adalah 16 Maret dan 18 Maret 2026,” ujar Dudy saat Media Gathering di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Infrastruktur Jalan Disiapkan
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia juga menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memastikan kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran.
Direktur Jenderal Bina Marga, Roy Rizali Anwar, mengatakan pemerintah telah menyiapkan enam strategi utama untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Menurut Roy, panjang jalan nasional non-tol saat ini mencapai 47.603 kilometer dengan tingkat kemantapan sebesar 93,50 persen. Selain itu, jalan tol yang telah beroperasi mencapai 3.115 kilometer dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menargetkan seluruh jalur mudik nasional sudah bebas dari lubang paling lambat 10 hari sebelum Lebaran.
Puncak Pergerakan dan Kebijakan WFA
Pemerintah memperkirakan jumlah pergerakan masyarakat pada 16 Maret 2026 dapat mencapai sekitar 21,2 juta orang, sementara pada 18 Maret 2026 diproyeksikan lebih tinggi hingga 22 juta orang.
Untuk mengurangi potensi penumpukan kendaraan, pemerintah mengusulkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) selama lima hari.
“Langkah ini dilakukan agar pergerakan masyarakat dapat terdistribusi dan tidak menumpuk pada tanggal tertentu,” ujar Roy.
Menhub Dudy menyebutkan usulan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Prabowo Subianto.
Kebijakan WFA rencananya diberlakukan pada 16 dan 17 Maret saat arus mudik, serta 25, 26, dan 27 Maret saat arus balik setelah masa cuti bersama Idulfitri.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat menurunkan jumlah pergerakan pada 16 Maret menjadi sekitar 18 hingga 18,9 juta orang.
Dudy menambahkan bahwa peningkatan mobilitas masyarakat diperkirakan mulai terjadi sejak 13 Maret 2026, dengan potensi perjalanan mencapai sekitar 8 hingga hampir 9 juta perjalanan pada hari tersebut.














