DK-Jakarta – Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, Tito Karnavian, mengungkapkan jumlah pengungsi akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra terus menurun. Saat ini tercatat sekitar 12.944 orang masih bertahan di pengungsian.
Hal itu disampaikan Tito saat rapat bersama pimpinan DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
“Pengungsi juga tadinya 2 juta lebih, sekarang menjadi lebih kurang 12.944 yang ada di tenda,” ujar Tito.
Ia memaparkan, total korban meninggal dunia akibat bencana mencapai 1.205 orang, sementara 139 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana tersebut berdampak luas pada 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, serta 4.511 desa di Pulau Sumatra.
Di Sumatra Barat, Tito memastikan sudah tidak ada lagi pengungsi. Sebelumnya tercatat 16.164 orang mengungsi, namun kini sebagian besar telah kembali ke rumah setelah menerima bantuan hunian sementara (huntara) maupun bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan dan sedang.
“Ada yang sudah pulang kembali mendapatkan bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan maupun sedang. Sedangkan yang berat atau hilang tinggal di huntara atau mendapatkan dana tunggu hunian,” katanya.
Sementara di Sumatra Utara, jumlah pengungsi tersisa sekitar 850 orang dari sebelumnya 53.523 orang. Para pengungsi kini terpusat di satu lokasi di Tapanuli Tengah. Tito menyebut masih terdapat sekitar 30 ribu rumah yang mengalami kerusakan di wilayah tersebut.
Adapun di Aceh, jumlah pengungsi masih cukup besar yakni 12.144 orang. Konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara dengan 5.197 orang masih bertahan di tenda pengungsian.
Selain Aceh Utara, wilayah terdampak lainnya meliputi Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Lhokseumawe, dan Nagan Raya.
Tito menyebut korban meninggal di Aceh mencapai 562 orang, dengan 29 orang masih dinyatakan hilang. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 256.258 rumah mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat.
“Untuk di wilayah Aceh ini memang dari 23 kabupaten/kota, 18 kabupaten/kota terdampak, kecamatan 203, desa atau kampung 3.046,” ujarnya.
Selain permukiman, kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, jembatan, tempat ibadah, serta sektor pertanian dan perkebunan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pemerintah, lanjut Tito, terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana guna mempercepat pemulihan masyarakat dan mengakhiri masa pengungsian di wilayah terdampak.














