Industri Pengolahan Tumbuh 5,40 Persen pada Triwulan IV 2025

Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, sektor industri pengolahan tumbuh 5,40 persen pada triwulan IV 2025.

Ilustrasi Statistik
Ilustrasi Statistik (Foto: Freepik).

DK-Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, sektor industri pengolahan tumbuh 5,40 persen pada triwulan IV 2025. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja industri makanan dan minuman, logam dasar, serta kimia dan farmasi.

“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” kata Amalia, Kamis, 5 Februari 2026.

Selain industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, mencatat pertumbuhan 6,07 persen. Kinerja tersebut sejalan dengan meningkatnya produksi dalam negeri, khususnya produk pertanian dan industri pengolahan.

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,09 persen, didorong oleh peningkatan lalu lintas data dan transaksi digital. Sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan 5,14 persen akibat meningkatnya permintaan domestik.

Amalia menyebutkan sejumlah sektor mencatat pertumbuhan tinggi, antara lain transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,98 persen, sektor informasi dan komunikasi 8,09 persen, serta jasa keuangan 7,92 persen.

Dari sisi ekspor, barang dan jasa tumbuh 3,25 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor komoditas nonmigas, seperti minyak nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan.

“Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara juga ikut mendongkrak ekspor jasa,” ujar Amalia. Sepanjang tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara tercatat meningkat menjadi 15,38 juta kunjungan.

Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, lima sektor dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan IV 2025 adalah industri pengolahan (19,20 persen), perdagangan (13,24 persen), pertanian (11,56 persen), konstruksi (10,16 persen), serta pertambangan (8,93 persen).