Bukan Minta Bantuan Uang! Pedagang Silo Desak Percepatan Penataan Kawasan Relokasi

 

DK-Sawahlunto (Sumbar)– Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto atau APESISTO angkat bicara. Hampir setahun sejak direlokasi ke kawasan Silo pada 20 Agustus 2025, narasi yang menyebut pedagang meminta bantuan uang, modal, atau pelatihan kepada PT Bukit Asam Tbk ditegaskan tidak benar.

Yang sesungguhnya diperjuangkan APESISTO adalah satu hal: percepatan penataan kawasan relokasi agar layak dan nyaman untuk aktivitas perdagangan.

Ketua APESISTO Marjafri menegaskan, sejak awal organisasi yang dipimpinnya hanya fokus pada satu agenda, yaitu penataan kawasan Silo.

“Sejak awal yang kami perjuangkan adalah penataan kawasan. Itu kebutuhan paling mendasar. Kami tidak pernah meminta bantuan uang, modal usaha, ataupun pelatihan. Yang kami inginkan sederhana: tempat berdagang yang tidak becek saat hujan, ada sarana memadai, dan masyarakat nyaman datang,” tegas Marjafri, Kamis 23 Juli 2026.

Ia membeberkan kondisi saat ini. Beberapa titik di kawasan Silo masih tergenang saat hujan dan becek. Minimnya sarana prasarana membuat aktivitas jual beli belum berjalan optimal.

Menurut Marjafri, Pemerintah Kota Sawahlunto sebenarnya sudah menunjukkan komitmen. Di APBD 2025, Pemko mengalokasikan anggaran lebih dari Rp600 juta untuk penataan kawasan Silo.

“Masalahnya bukan di anggaran. Pemko sudah menganggarkan. Kendalanya ada pada status penggunaan lahan. Selama izin pinjam pakai belum selesai, pembangunan fisik belum bisa dimulai,” jelasnya.

Dengan status lahan yang belum tuntas, APESISTO kemudian membuka komunikasi dengan PT Bukit Asam Tbk selaku pemilik lahan.

Harapan agar PTBA mengambil peran melalui program CSR muncul sebagai solusi alternatif, agar penataan tidak menunggu terlalu lama.

“Jadi tolong jangan dipahami kami meminta uang atau modal. Harapan kami kepada PTBA adalah membantu mempercepat penataan kawasan. Jika pemerintah belum bisa bergerak karena terkendala lahan, maka kami berharap PTBA dapat hadir melalui CSR sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan,” ujar Marjafri.

Di tengah penantian itu, APESISTO membuktikan para pedagang tidak berdiam diri. Bersama Pemko Sawahlunto, berbagai kegiatan seni, budaya, edukasi, dan hiburan terus digulirkan untuk menghidupkan kawasan Silo.

Bahkan secara mandiri, APESISTO menggelar *Open Turnamen Domino Piala Wali Kota Sawahlunto 2026* sejak 18 Juli hingga 16 Agustus 2026. Total hadiahnya belasan juta rupiah plus 1 unit sepeda motor matic.

“Kami tidak hanya menunggu. Sejak direlokasi kami terus berikhtiar. Gelar kegiatan, bangun komunikasi, sampaikan aspirasi, sampai buat turnamen domino. Semua kami lakukan agar roda ekonomi tetap jalan di tengah keterbatasan,” katanya.

Marjafri menutup dengan menegaskan komitmen APESISTO. Organisasi ini akan terus menjadi corong aspirasi pedagang dan membangun jembatan komunikasi dengan Pemko Sawahlunto, PTBA, dan seluruh pemangku kepentingan.

“APESISTO akan terus bergerak. Kami yakin persoalan Silo hanya bisa selesai dengan kolaborasi, bukan dengan saling menyalahkan. Kami ingin Silo tertata, nyaman, dan jadi pusat ekonomi baru bagi Sawahlunto,” pungkasnya.

Ia berharap masyarakat melihat persoalan ini secara utuh. Selama setahun ini, pedagang Silo tidak pernah berhenti berjuang. Bukan untuk meminta bantuan, tapi untuk mendapatkan kepastian dan tempat berusaha yang layak.

Penulis: AfriyantiEditor: Herman