DK-Bintan— Kabar baik bagi sektor perikanan di Kepulauan Riau: ekspor kerapu kembali berjalan setelah sempat terhenti selama tujuh bulan. Gubernur Ansar Ahmad secara simbolis melepas 7 ton ikan kerapu dari sejumlah lokasi, sebagai titik balik kebangkitan ekspor perikanan daerah ini.
Dari Mana Ikannya?
Sebanyak 3,5 ton berasal dari Pulau Sirai, Bintan — jenis kerapu tiger, cantang, dan lumpur.
Sisanya, 3,5 ton berasal dari Sedanau, Bunguran Barat, Natuna. Tujuannya ekspor ke pasar Hongkong.
Siapa yang Terlibat?
Pelepasan ini dihadiri langsung oleh Gubernur Ansar dan Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, pejabat Karantina Ikan, instansi terkait, dan pembudidaya ikan. Pemerintah daerah bekerja sama erat dengan instansi pusat dan lembaga karantina agar ekspor berjalan lancar.
Dampak Ekonomi & Potensi Besar
Selama masa terhentinya ekspor, diperkirakan Kepri kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp3 miliar per bulan.
Dengan ekspor kembali bergeliat, diharapkan devisa yang masuk akan kembali meningkat, dan petani ikan kerapu serta pelaku usaha terkait bisa mendapat manfaat ekonomi langsung.
Upaya Keberlanjutan
Untuk menjaga agar ekspor ini tidak hanya bersifat sesaat, Pemprov Kepri sudah menyiapkan strategi:
Menyiapkan kawasan konservasi perikanan budidaya seluas sekitar 2,9 juta hektare sebagai ruang pelindung dan pengembangan stok ikan.
Memastikan standar kualitas, mutu, dan keselamatan melalui karantina ikan agar produk ekspor memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Kenapa Ini Menjadi Momentum?
Ekspor kerapu sudah lama menjadi komoditas unggulan Kepri — kini momentum ini menjadi peluang untuk mengembalikannya ke jalur yang lebih stabil dan menguntungkan.
Dengan pasar ekspor Hongkong yang terbuka lagi, peluang memperluas pasar ke negara lain juga semakin nyata.
Kesuksesan ekspor kali ini bisa jadi contoh bagi jenis produk laut lain agar lebih siap menembus pasar ekspor.














