Tri Hari Suci Jadi Momen Refleksi Iman dan Kebersamaan Umat Katolik

Di tengah kesibukan sehari-hari, momen Tri Hari Suci menjadi ruang hening bagi banyak umat Katolik untuk kembali merefleksikan iman dan mempererat hubungan dengan Tuhan serta sesama.

Umat Katolik asal Bekasi, Iin Agustina saat ditemui RRI usai menyaksikan drama Lux in Nihilo, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat, 13 April 2026.
Umat Katolik asal Bekasi, Iin Agustina saat ditemui RRI usai menyaksikan drama Lux in Nihilo, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat, 13 April 2026. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta – Di tengah kesibukan sehari-hari, momen Tri Hari Suci menjadi ruang hening bagi banyak umat Katolik untuk kembali merefleksikan iman dan mempererat hubungan dengan Tuhan serta sesama.

Bagi Iin Agustina, peringatan ini menjadi kesempatan untuk menjaga relasi, terutama dalam lingkup keluarga. Ia mengaku momentum tersebut sering dimanfaatkan untuk berkumpul dan saling mengingatkan pentingnya komunikasi.

“Kita kumpul keluarga, saling memberi perhatian, saling mengingatkan. Kadang karena kesibukan, kita jadi lupa untuk sekadar ngobrol dan berbagi,” ujarnya usai menyaksikan drama “Lux in Nihilo” di Gereja Katedral Jakarta, Jumat (13/4/2026).

Menurutnya, kisah sengsara Yesus Kristus memberikan refleksi mendalam tentang makna pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai, memikul “salib” bukan hanya tentang menerima penderitaan, tetapi juga belajar mengasihi, bahkan kepada mereka yang menyakiti.

“Kalau saya disakiti orang, apakah saya masih bisa mengasihi? Kalau tidak, berarti saya justru menambah beban salib itu,” katanya.

Iin menyebut pergulatan batin tersebut menjadi pengingat bahwa menyangkal diri dan mengampuni bukan hal yang mudah. Namun, di situlah letak makna iman yang sesungguhnya.

Sementara itu, Elma memaknai Jumat Agung sebagai refleksi atas penderitaan Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia dan kebangkitan-Nya.

Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap manusia pernah mengalami jatuh dalam kesalahan.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah jatuh dan baru kemudian sadar. Tapi di saat seperti itu, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan menguatkan kita,” ujarnya.

Momentum Tri Hari Suci pun diharapkan menjadi pengingat bagi umat untuk terus memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama.