DK-Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat progres pembangunan Bendungan Manikin di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur telah melampaui target. Hingga kini, capaian pembangunan mencapai 68,98 persen, lebih tinggi dari rencana sebesar 68,57 persen.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bendungan ini menjadi solusi atas keterbatasan air di NTT, khususnya untuk mendukung sektor pertanian.
“Bendungan Manikin akan menjadi salah satu infrastruktur dalam mendukung ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur. Dengan penyediaan air irigasi yang andal, diharapkan produktivitas pertanian meningkat dan kesejahteraan petani ikut naik,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Pembangunan bendungan yang dimulai sejak 2019 ini memiliki nilai anggaran sekitar Rp2,059 triliun dan dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II.
Secara teknis, bendungan ini memiliki kapasitas tampung mencapai 20,45 juta meter kubik dan akan mengairi lahan pertanian seluas lebih dari 570 hektare.
Dengan dukungan tersebut, indeks pertanaman ditargetkan meningkat dari 200 persen menjadi 300 persen. Hal ini diharapkan mampu mendorong produksi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah tersebut.
Selain untuk irigasi, Bendungan Manikin juga akan menyediakan air baku sebesar 700 liter per detik bagi kebutuhan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Fungsi lain dari bendungan ini adalah sebagai pengendali banjir, yang diproyeksikan mampu menekan potensi genangan hingga ratusan hektare di wilayah terdampak.
Di sisi energi, bendungan ini juga memiliki potensi pengembangan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Pemerintah menilai Bendungan Manikin tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur sumber daya air, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang mendukung pertanian, energi bersih, penyediaan air, hingga potensi pariwisata lokal secara berkelanjutan.














