DK – ANAMBAS – Masyarakat Kepri sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Salah satu bentuk toleransi ialah dengan berdirinya banyak tempat ibadah non muslim.
Vihara Gunung Dewa Siantan merupakan salah satu tempat ibadah yang terletak di Desa Sri Tanjung, Kecamatan Siantan sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Kini, vihara tersebut jadi lokasi wisata.
Lokasinya berada di tebing. Jika sudah sampai di vihara ini, maka pemandangan laut dan Kota Tarempa dengan hiruk pikuk kapal di laut menjadi suguhan tersendiri.
Sedangkan lokasi vihara ini dengan dataran perbukitan masih terjaga keasrian alamnya. Di belakang vihara tersebut masih ada hutan yang hijau dan asri.
Karena itulah, vihara ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga kerap dijadikan tempat berlibur sambil bersantai dan memperbanyak foto-foto kenangan.
Dilansir dari salah satu media online, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Raja Heri Mochrizal SH,MH mengatakan, di seputaran Tarempa banyak lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi termasuk Vihara Gunung Dewa Siantan.
“Vihara ini menjadi lokasi wisata religi yang sering dikunjungi. Ini juga simbol toleransi beragama di Anambas dan menjadi daya tarik tersendiri untuk daerah itu,” ucapnya.
Anambas, kata Heri sangat kaya dengan destinasi wisatanya baik itu wisata alam, religi hingga bahari. Sehingga, masa depan kepariwisataan Anambas akan terus berkembang.
Untuk sampai ke vihara ini bisa naik ojek atau jalan kaki karena tidak terlalu jauh. Jalan kaki juga mengenakkan sambil mencari spot foto. Jika merasa capek, bisa melanjutkan perjalanan dengan naik ojek.
Keramahan masyarakat akan menambah kenyamanan pengunjung yang datang kesana. Kulinernya juga enak dan banyak pilihan. Karena dekat dengan kota, banyak fasilitas yang bisa digunakan.
Vihara Gunung Dewa Siantan tersebut satu-satunya rumah peribadatan warga Tionghoa yang beragama Buddha di Kecamatan Siantan.
Vihara tersebut awalnya dibangun dari kayu di tepi pantai. Namun karena cepat lapuk dan rentan terseret gelombang laut, akhirnya tahun 1963 dipindahkan ke lokasi yang saat ini.
Bangun itu kini sudah berdiri kokoh menjulang di tepi jalan yang memiliki dua jalur yakni gerbang masuk dan gerbang keluar. Karena posisinya yang tinggi, maka pengunjung akan naik tangga.
Untuk memperindah tempat itu, pengelola vihara menempatkan bunga hidup. Konstruksi gedung hihara ini dibangun di atas tebing yang cukup tinggi dengan sejumlah bebatuan besar di sekelilingnya.
Gedung didominasi warna merah dengan paduan warna hijau. Dua pilar gedung juga dilapisi dengan ukiran naga mengikuti budaya asalnya, Tiongkok. Satu berwarna merah keemasan dan yang satu lagi berwarna hijau keemasan.
Di dalam vihara sendiri terdapat patung-patung dewa dan patung Buddha Gautama yang berada dalam aula seluas 16 meter persegi.
Di ruangan itu dipasang juga patung-patung dewa seperti San Pou Fo, Kwan Gui Yung Phut Sat, Kwan Ti Kong, Tua Pek Kong, Guan Sai, dan juga Sam po.
Di samping kuil juga terdapat bangunan yang biasa digunakan sebagai tempat belajar Agama, tempat pelayanan serta pusat kegiatan untuk umat Buddha.
Biasanya Vihara ini akan ramai dikunjungi saat hari besar perayaan Imlek umat Buddha ataupun adanya kunjungan liburan dari para wisatawan luar maupun lokal yang telah mendapatkan izin dari pengurus Vihara.
Nilai gedung-gedung lama dan bersejarah seperti ini akan semakin tinggi terlebih untuk wisata rohani. Karena itu, masih perlu diperhatikan apa saja yang harus dibenahi untuk mendukung tempat itu.
Penulis: Herman
Editor: Budi


https://dpk.kepriprov.go.id/











