Oleh :
Delia Nadila
Mahasiswi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Sebagai bahan bakar fosil yang murah, berlimpah, dan paling berpolusi, batu bara tetap menjadi sumber energi yang paling diandalkan dalam menghasilkan listrik di seluruh dunia.
Padahal, sejak Perjanjian Paris pada 2015, banyak negara kecuali Amerika Serikat sepakat untuk mengurangi ketergantungan sumber energi batu bara.
Namun faktanya, penurunan signifikan hanya terjadi kurang dari dua tahun setelahnya, di mana Jerman dan China memimpin keberatan terhadap pengetatan sumber daya alam itu, lapor panel perubahan iklim PBB, sebagaimana dikutip dari The New York Times.
Lalu, mengapa kita sulit untuk berpaling dari batu bara sebagai sumber energi?
Alasan pertama adalah karena batu bara adalah sumber energi petahan, yang tersimpan jutaan ton di bawah tanah.
Perusahaan-perusahaan kuat, yang didukung oleh pemerintah yang juga kuat, terus menumbuhkan pasar terkait atas alasan ekonomi. Perbankan pun masih mendapat untung dari sektor ini.
Jaringan listrik nasional di banyak negara dirancang untuk mengunakan sumber tenaga batu bara. Kekayaan fosil ini juga menjadi cara yang pasti bagi politikus untuk menjanjikan listrik murah, guna meraih suara populis.
Dan bahkan ketika energi terbarukan semakin populer, mereka masih memiliki keterbatasan. Angin dan tenaga surya mengalir ketika angin bertiup dan matahari bersinar, dan itu membutuhkan jaringan listrik tradisional yang bertenaga batu bara sebagai komplementer.
“Alasan utama mengapa batu bara bertahan adalah, kita sudah memanfaatkannya sejak lama,” kata Rohit Chandra, yang meraih gelar doktor dalam kebijakan energi di Harvard University.
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) mengatakan, pasca-Glasgow pemerintah dan Dewan Energi Nasional (DEN) harus mengakselerasi penyusunan peta jalan dan strategi transisi energi di Indonesia secara komprehensif.
“Ketergantungan pada energi fosil tidak akan berakhir kalau kita tidak secara cepat meningkatkan kapasitas energi terbarukan,” katanya.
Dia menekankan, keputusan menghentikan bertahap bahan bakar fosil, terutama PLTU merupakan hal yang tak terhindarkan, tidak saja dari perspektif penyelamatan iklim juga keekonomian teknologi.
“Terutama dengan ada inovasi dan harga teknologi energi terbarukan dan teknologi penyimpanan sudah lebih kompetitif terhadap energi fosil, pemanfaatan energi terbarukan untuk menjamin keandalan penyediaan energi untuk mencapai net-zero emission menjadi makin layak.”
Mengacu pada kajian IESR mengenai Dekarbonisasi Energi Sistem Indonesia, setidaknya butuh investasi energi terbarukan dan energi bersih lain US$20-25 miliar per tahun hingga 2030. Jumlah ini, katanya, akan meningkat setelah itu untuk pembiayaan phase out batubara dan pengembangan energi terbarukan untuk bebas emisi pada 2050.
Menurut pandangan saya pada prinsip pertambangan batu bara saat ini merupakan sumber pendapatan esensial negara, pada perkembangannya khususnya di tahun 2021 ini harga batu bara terkesan sangat melejit tinggi.
Mengingat batu bara yang tersebar dikondisi geografis Indonesia yang sumbernya khususnya di Palembang, Jambi dan Kalimantan hasil batu bara nya sangat bagus dan tidak kalah dengan hasil batu bara yang ada di negara Australia, sehingga peminatnya sangat tinggi.
Karena di Indonesia geografisnya kaya akan sumber daya alam batu bara, jika batu bara yang tersedia sangat bagus sehingga memancing para investor untuk pembangunan PLTU di Indonesia. Saat ini PLTU di Indonesia tersebar di beberapa wilayah dan sudah mulai banyak investornya, dan rata rata merupakan dari negara China, karena negara China merupakan keahliannya adalah pembangun PLTU dan dinegara nya sendiri PLTU sudah dihentikan.
Untuk itu para investor berbondongbondong untuk keluar ke daerah Asia tentunya untuk melakukan investasi pembangunan PLTU demi keberlangsungan bisnis mereka. Namun perlu diperhitungkan kembali kenapa Indonesia menerima mereka masuk ke investasi pembangunan investasi PLTU ini?
Karena Indonesia sendiri melalui perusahaan listrik Indonesia yaitu PLN (Perusahaan Listrik Nasional) belum memiliki mesin dan kapasitas listrik menyuplai kapasitas listrik yang memadai untuk menerangi seluruh Indonesia, untuk itu mau tidak mau kita harus menerima adanya bantuan investor dari China pembangunan PLTU tsb, karena mengingat sumberdaya batu bara kita masih sangat banyak dan kualitas nya juga tidak kalah, jadi suply batu membantu PLTU sangat efisien, walaupun tentu kita mengetahui bahwasanya keberadaan PLTU akan merusak lingkungan dan penggunaan batu bara akan habis seiring berjalannya waktu.
Namun tentunya pada saat di era modern ini penambang sudah melakukan cara modern untuk bagaimana memiliki plan yang bisa memaksimalkan wilayah mana cadangan batu bara yang bagus dan wilayah mana cadangan batu bara yang mungkin masih ditahap perkembangan, jadi tidak sembarang menggali.
Dan untuk upaya untuk mencegah terjadinya kebanyakan pembangunan PLTU di Indonesia, negara kita sudah memberikan suatu aturan bahwasanya pembangunan PLTU baru sudah tidak diperkenankan, tetapi PLTU yang sudah dibangun dan sudah dijalankan saat ini akan terus berjalan hingga 2050. Namun seiring berjalannya waktu direkomendasikan untuk menggunakan atau merevisi boiler PLTU digantikan dengan cangkang kulit kelapa, hal ini sedang di uji teknisnya.













