OPINI  

Idealisme Demi Politik Praktis

Dwi Santiya Arbi, prodi administrasi publik kampus stisipol raja haji tanjung pinang


Idealisme
berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-halbersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Untuk menjaga agar idealisme tetap kokoh tidaklah mudah, karena akan banyak godaan yang bisa membuat idealisme itu menjadi goyah, seperti aspek politik praktis. Najwa Shihabmengatakan di dalam kutipannyaPolitik adalah lautanPragmatisme, kompromi demi kompromi bisa melelehkanidealisme“.

Selama ini hampir bisa dipastikan pada setiap pemilihankepala daerah (pilkada) semua partai politik (parpol) mengambiltema-tema simpatik. Misalnya, terkait isu-isu kesehatan, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi. Implementasinya dengansubsidi, pembebasan biaya, peningkatan investasi dan peluangusaha yang besar. Secara ideologis hampir tidak ada partaipolitik yang berani mengusung identitas aslinya.

Padahal konsep-konsep ideologis yang semestinya diusungjustru akan kembali menegaskan identitas dan esensi perjuanganpolitiknya sehingga bisa menunjukkan idealisme politik. Denganidealisme itu partai politik dan politisi tidak lagi terjebak dalampragmatisme sempit. Misalnya, pencitraan sebatas untukmenaikkan elektabilitas dalam pemilihan anggota legislatif. Demikian juga dengan tema-tema kampanye yang sebatas untukmemenangkan bursa pilkada. Purifikasi idelogi ini yang akanmenggiring publik menetapkan pilihan secara lebih rasional danideal.

Peran ideologi politik itu sudah tidak ada sama sekali, namunsecara umum perannya sudah semakin rendah dan digantikanoleh hal lain yang bersifat pragmatis. Perubahan iklim politikdan kekuasaan serta semakin dinamisnya perubahan pola dangaya hidup sebagian besar masyarakat di era sekarang ini, paling tidak membuktikan betapa kuatnya keterpengaruhan media massa dalam merubah ikon tampilannya di hadapan khalayakyang semakin selektif, praktis sekaligus konsumtif. Jikadianalisis lebih jauh dengan menggunakan teori-teori media massa yang pernah dimunculkan oleh para pakar media massadalam berbagai realitas terkinipola hubungan sebabakibat atau pola hubungan saling ketergantungan antara media dan khalayaknya, sudah banyak mengalami pergeseran.

Pada masa seperti sekarang ini, para politisi lebih banyakmemandang materi dan fisik dan merendahkan ide-ide kreatifyang sebenarnya bisa membuat suatu kota atau daerah menjadimaju. Namun, kaerna ego yang semakin kuat dan keinginanuntuk mendapat kekuasaan semakin besar, membuat beberapapolitisi menjadi lupa tujuan utama serta visi misi yang seharusnya dijalankan.

Di suatu kota atau daerah,  para politisi akan berlomba-lombamencari suara untuk memilihnya agar bisa mendapat kekuasaanyang selama ini diinginkannya. Semakin kuat keinginannya, terkadang membuat mereka lupa bahwa idealism sangat pentingdan sangat dibutuhkan dalam bersaing di dunia politik. Denganadanya idealisme, para politisi bisa membuat masyarakatpercaya bahwa jika suatu kota atau daerah dipimpin olehnyamaka daerah itu akan menjadi maju dan lebih makmur daripadasebelumnya. Namun semua itu tergantung dari visi misi yang mereka punya.

Selain itu, beberapa politik juga dilakukan dengan menyebarluaskan melalui media massa. Dari sini dapat kita lihat, bahwasemakin berkembangnya zaman dengan kecanggihan yang ada, maka media massa semakin diperlukan oleh seluruh masyarakat. Bahkan untuk anak-anak sekolah saja sudah pintar dalammenggunakan gadget. Meskipun masih ada beberapa yang tidakmenggunakan sosial media dengan baik. Media massa jugaberpengaruh untuk para politisi. Dengan adanya media massa, para politisi bisa menyebarkan visi misi dan tujuannya melaluisosial media. Bisa disebarkan melalui pesan suara atau video atau bisa juga dengan postingan dan sebuah pesan. Hal ini bisadilakukan menggunakan media WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dan masih banyak media lainnya yang bisadigunakan.

Dengan berkembangnya media massa, membuat para politikberjalan dengan prakktis. Sehingga para politisi tidak bisaberkomunikasi dan bertemu secara langsung dengan masyarakatyang akan memilihnya. Kondisi di Indonesia saat ini sudah tidakseburuk di pertengahan  tahun 2020, namun para politisi masihada yang menganggap bahwa tidak ada kemungkinan untukvirus ini tersebar lagi. Sehingga, mereka melakukan danbermusyawarah hanya dengan menggunakan media massa, adajuga yang melalui pertemuan virtual yaitu dengan menggunakanZoom Meeting, Google Meet, atau juga yang lainnya.

Persaingan seperti ini membuat masyarakat bingung harusmemilih partai politik yang mana. Karena ada kelebihan dankekurangan yang mereka tonjolkan dari masing-masing politisidan partai politik. Seharusnya, dalam dunia politik, para politisiharus pintar menggunakan dan menjunjung tinggi idealisme. Karena hal ini sangat berpengaruh bagi masyarakat yang akanmemilih pemimpinnya nanti.

Pada masa kini, idealisme semakin berkurang dalam duniapolitik.  Karena banyak  dari para politisi yang melupakanbetapa pentingnya idealisme tersebut. Tanpa disadari bahwa halitu bisa meruntuhkan dan menjatuhkan kekuasaannya jika iahanya mementingnya materi dan fisik untuk mendapatkankekuasaan dan menjadi  pemimpin di suatu kota atau daerah.

Media massa adalah salah satu hal yang sudah meracunipikiran banyak masyarakat. Karena masyarakat menganggapbahwa dengan adanya media massa, kita tidak perlu keluar atauberkumpul di suatu tempat untuk membahas mengenaipermasalahan yang ada atau melakukan musyawarah. Karenamedia massa sudah mempunyai aplikasi yang membuat semuaorang bisa bertatap muka antara satu dengan lainnya danmendengarkan suara tanpa harus berkumpul di satu tempat. Dan hal ini juga bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Padahal, pertemuan di suatu tempat akan menumbuhkan kebersamaandan musyawarah bisa berjalan dengan baik dan juga salingmengenal antara satu dengan yang lainnya.

(Hs)