Banjir Bukan Takdir: Cermin Kelalaian Kita pada Alam

 

 

DK-Sumatra Barat 4 mei 2026 – Banjir yang kerap melanda berbagai daerah sering langsung dikaitkan dengan takdir atau cuaca ekstrem. Padahal, hujan deras hanya pemicu, bukan akar masalah. Realitanya, bencana ini buah dari kelalaian kita sendiri terhadap lingkungan.

Ada tiga biang kerok utama. *Pertama, tata kelola sampah yang buruk.* Limbah rumah tangga, terutama plastik, dan sisa pertanian yang dibuang sembarangan menyumbat sungai dan selokan. Aliran tersumbat, air pun meluap ke permukiman.

*Kedua, kerusakan ekosistem hutan.* Penebangan liar dan alih fungsi lahan membuat tanah kehilangan daya serap air. Hutan gundul memicu merosotnya air tanah dan melonjaknya debit air permukaan saat hujan turun.

*Ketiga, lemahnya penegakan hukum.* Perizinan longgar dan pengawasan yang tidak tegas membuat pelanggaran lingkungan terus berulang. Padahal, payung hukumnya sudah jelas.

UU Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 67 mewajibkan setiap orang menjaga kelestarian fungsi lingkungan. UU Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 29 melarang tegas membuang sampah ke sungai. UU Kehutanan juga mengancam pidana bagi penebangan tanpa izin. Sayangnya, aturan ini kerap tak berjalan efektif.

Dari sisi spiritual dan budaya, pesan menjaga alam pun tegas. Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi karena ulah manusia. Dalam Kristen, Kejadian 2:15 memerintahkan manusia memelihara bumi. Falsafah Tri Hita Karana dalam Hindu mengajarkan pentingnya harmoni manusia dan alam.

Lalu, apa solusinya? Perubahan dimulai dari diri sendiri. Masyarakat harus disiplin memilah dan mengolah sampah, seperti menjadikan sampah organik kompos. Pemerintah wajib menutup celah perizinan, memperketat patroli, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Tak kalah penting, nagari, sekolah, dan rumah ibadah harus jadi garda terdepan edukasi lingkungan.

Banjir adalah peringatan keras, bukan kutukan yang tak bisa dielakkan. Saatnya ubah pola pikir: jaga alam, maka alam akan menjaga kita.

Penulis: HermanEditor: Syafri