https://dpk.kepriprov.go.id/

Uni Eropa Ajak SDM Indonesia Manfaatkan Program Riset dan Inovasi Global

Uni Eropa mengajak sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya dari kalangan perguruan tinggi, untuk memanfaatkan berbagai program penelitian dan inovasi yang ditawarkan universitas-universitas di Eropa.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi (mengenakan jas biru) bersama para peserta seminar “Uni Eropa dan Jaringan Mitra Universitas”, Selasa, 27 Januari 2026 di Jakarta.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi (mengenakan jas biru) bersama para peserta seminar “Uni Eropa dan Jaringan Mitra Universitas”, Selasa, 27 Januari 2026 di Jakarta. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Jakarta – Uni Eropa mengajak sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya dari kalangan perguruan tinggi, untuk memanfaatkan berbagai program penelitian dan inovasi yang ditawarkan universitas-universitas di Eropa. Ajakan tersebut disampaikan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, saat membuka seminar bertajuk “Uni Eropa dan Jaringan Mitra Universitas” di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Dalam sambutannya, Denis Chaibi menegaskan bahwa Uni Eropa memiliki program unggulan bernama Horizon Plus yang terbuka bagi seluruh universitas di dunia, termasuk Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk terlibat dalam riset kolaboratif lintas negara.

“Uni Eropa sangat ingin mengembangkan partisipasi Indonesia dalam program ini. Indonesia memiliki keahlian unik di banyak bidang yang kami anggap penting untuk menjawab isu-isu global,” ujar Denis.

Ia menjelaskan, kerja sama penelitian antar universitas menjadi salah satu fokus utama Uni Eropa, khususnya di bidang keberlanjutan. Universitas-universitas Indonesia yang berminat bahkan dapat mengajukan proposal penelitian bersama dengan mitra dari Eropa.

Menurut Denis, Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan, seperti panas bumi dan energi surya, yang sangat relevan dengan agenda keberlanjutan global. Oleh karena itu, kemitraan riset dinilai penting untuk mendorong inovasi sekaligus pertumbuhan ekonomi.

“Kami ingin mengembangkan kemitraan antara universitas-universitas Indonesia dan Eropa. Namun, untuk itu kita perlu membangun proposal penelitian bersama yang kuat,” katanya.

Seminar “Uni Eropa dan Jaringan Mitra Universitas” yang berlangsung pada 26–27 Januari 2026 tersebut bertujuan untuk mempertemukan perguruan tinggi Indonesia dengan jejaring universitas Uni Eropa. Denis berharap kegiatan ini dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi akademik dan penelitian.

“Inti dari acara ini adalah membangun jaringan, agar universitas-universitas Indonesia dapat menemukan peluang kolaborasi yang lebih luas dengan universitas Uni Eropa,” ucapnya.

Lebih lanjut, Denis menilai potensi kerja sama penelitian dengan Indonesia sangat besar, didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan SDM yang melimpah. Ia juga menyoroti karakter SDM Indonesia yang dinilai melek digital, energik, serta memiliki banyak mahasiswa berkualitas.

“Kami ingin mengembangkan penelitian di berbagai bidang yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan perspektif keberlanjutan. Kemitraan yang baik akan membuat riset menjadi lebih kompetitif,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Ani Nigeriawati, mengatakan bahwa penelitian dan pengembangan juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia dalam menjalin hubungan dengan negara mitra, termasuk Uni Eropa.

Menurut Ani, pemerintah saat ini menjalankan program Sekolah Unggul Garuda (SUGAR) yang bertujuan menyiapkan lulusan terbaik Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas terkemuka dunia.

“Kemlu juga menjadi bagian dari tim SUGAR. Kami berupaya menyalurkan lulusan program ini ke universitas-universitas terbaik dan ternama di dunia,” ujar Ani.

Selain itu, kerja sama Indonesia dan Uni Eropa semakin diperkuat melalui Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang disepakati pada September 2025. Perjanjian tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi kolaborasi penelitian dan inovasi antar universitas di kedua kawasan.